Charles Dickens: Delapan Novel dan Nilai Kekayaan

1
[1843]

Barangkali jika diibaratkan dunia, isi kepala Charles Dickens adalah dunia yang tak pernah jadi usang dan membosankan. Bukti nyatanya adalah apa yang tertuang dari sana – serangkaian karya sastra yang berkisah tentang banyak hal, mulai dari cinta, persahabatan, kekeluargaan, dan masalah sosial.

Dari sekian banyak novel yang ditulis oleh Charles Dickens, selalu ada satu topik yang menjadi benang merah, jurang sosial. Pada era modern, hal tersebut memang dianggap biasa, akan selalu ada orang kaya dan miskin, yang penting, sebisa mungkin kita menjadi orang kaya.

Baca juga: Okky Madasari – Lima Novel Untuk Kalian yang Mengaku Kritis

Namun setelah membaca novel-novel Charles Dickens, kalian akan terjebak pada gaya berpikir yang baru, kebahagiaan tidak selamanya berasal dari kekayaan, tetapi dari bagaimana cara memandang hidup itu sendiri. 

Tidak percaya? Intip saja karya-karya epik dari Charles Dickens di bawah ini;

A TALE of TWO CITIES

Dari kota ke kota, dari Prancis hingga Inggris. Namun alih-alih wisata indah, justru getir yang akan kalian kecap saat membaca buku ‘A Tale of Two Cities’.

Berkisah tentang Dokter Manette yang dibawa pulang oleh Tuan Jarvis Lorry setelah 18 tahun dipenjara di Basrille atas kesalahan yang tidak dia lakukan, ‘A Tale of Two Cities’ menggambarkan betul bagaimana tertindasnya rakyat sipil, dan semena-menanya hukum pada mereka.

[Simon & Schuster]
Meskipun sekadar fiksi, tetapi apa yang disajikan ‘A Tale of Two Cities’ adalah juga kenyataan. Mulai dari penguasa kejam dan sosiopat, hingga penyerbuan penjara Bastille oleh rakyat dengan semangat kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.

Hari penyerbuan tersebut lantas menjadi awal dari revolusi Prancis yang masih diperingati sampai sekarang sebagai La Fête Nationale atau Perayaan Nasional.

A CHRISTMAS CAROL

Tidak asing dengan judul di atas? Benar, novel ‘A Christmas Carol’ sudah pernah diadaptasi menjadi film animasi berjudul sama pada tahun 2009.

‘A Christmas Carol’ berkisah tentang seorang lelaki tua yang kaya dan kikir bernama Ebenezer Scrooge. Setelah kematian rekan kerjanya, Jacob Marley, Scrooge dihampiri oleh berbagai hantu di malam hari, yang bukannya mengerikan, justru menyadarkannya akan sikap culas dan anti-sosialnya.

[Stay Bookish]
Bukan hanya itu, Scrooge pun teringat kembali akan masa kecilnya yang kurang perhatian dari orang-orang sekitar.

OLIVER TWIST

Masih tentang kritik sosial, Oliver Twist berkisah tentang seorang anak yatim piatu bernama Oliver yang mengalami kepahitan hidup sejak diadopsi oleh seorang keluarga kejam, berkenalan dengan para penjahat di London, dan pada akhirnya hidup bahagia setelah melewati setiap cobaan hidup dengan penuh kesabaran.

[Penguin NZ]
‘Oliver Twist’ berlatarkan kota London pada masa Revolusi Industri, yang digambarkan penuh dengan ketidakadilan akibat curamnya kesenjangan sosial di periode tersebut.

GREAT EXPECTATIONS

Seperti judulnya, ‘Great Expectations’ menceritakan seorang anak lelaki yatim piatu bernama Pip yang tinggal bersama kakak iparnya. Pip mencintai Estella, seorang anak gadis berperilaku kasar yang ia temui di rumah Mrs. Havisham. Sejak mengenal Estella, Pip ingin sekali menjadi seorang gentleman, alias lelaki sejati.

[Book Crossing]
Dalam perjalanannya menjadi lelaki sejati, ada banyak hal yang harus Pip temui. Semuanya membuat Pip menyadari berbagai macam kenyataan, mulai dari masa lalu Estella, hingga bagaimana karakter lelaki sejati sesungguhnya.

MARTIN CHUZZELWIT

Dibandingkan novel-novel sebelumnya, kalian akan menemukan bahwa ‘Martin Chuzzelwit’ memiliki narasi lebih ringan dan nuansa yang lebih riang. Berkisah tentang Martin Chuzzelwit, seorang anak egois dan keras kepala, cucu dari seorang kakek kaya raya yang mewarisinya dua sifat tersebut.

[Penguin NZ]
Pada ‘Martin Chuzzelwit’, terasa kental sindiran-sindiran tajam Charles Dickens terhadap keluarga-keluarga dengan kekayaan melimpah. Ada anak-anak yang berusaha menjilat ayahnya agar mendapat harta warisan, dan ada juga hubungan kurang harmonis antar anggota keluarga.

DAVID COPPERFIELD

Mungkin kalau mendengar nama di atas, umat manusia di planet Bumi akan teringat pada seorang pesulap populer. Sayang, novel Charles Dickens berikut ini, bukan bercerita tentang sosok jenius tersebut.

[Penguin NZ]
Berlatar tempat di Blunderstone, novel menceritakan hidup seorang penulis, bernama David Copperfield, mulai dari kelahirannya, penderitaannya setelah sang ibu menikah lagi, hingga pertemuannya dengan bibi yang baik hati dan berperan penting dalam kesuksesannya.

Mirip seseorang? Siapa yang tahu pasti.

DOMBEY and SON

Pada ‘Dombey and Son’, Charles Dickens menyajikan stereotype orang kaya di masa pra-industri, yang digambarkan sombong dan lebih menyukai anak lelaki ketimbang anak perempuan.

Paul Dombey, saudagar kaya pemilik perusahaan pelayaran, sangat bahagia saat istrinya melahirkan anak lelaki. Meski sebelumnya Paul sudah memiliki anak perempuan bernama Florence, tetapi dia membenci anak itu karena dia selalu mengharapkan anak laki-laki.

[XIST Classic]
Rupanya, beberapa tahun kemudian sang anak lelaki meninggal dunia, dan nantinya, setelah Paul menua dan jatuh miskin, justru Florence yang akan merawatnya.

LITTLE DORIT

Novel yang sempat diangkat menjadi mini seri ini berkisah tentang Amy alias Little Dorit, seorang penjahit miskin yang bekerja demi menghidupi dirinya sendiri dan ayahnya, yang dipenjara akibat tidak mampu membayar utang.

Amy bekerja pada Mrs. Clennam, yang memiliki anak lelaki bernama Arthur dan rupanya menyimpan rahasia besar.

[Booktopia]
Pada pertengahan novel, hidup semakin memihak Amy karena ternyata ayahnya berhak mewarisi kekayaan besar. Namun kekayaan yang tiba-tiba itu justru membuatnya tidak bahagia.