Film-Film Klasik Untuk Pencandu Sci-Fi

2
[flickr.com] Foto oleh Prairie Kittin.

Mari menonton film-film klasik bertema science fiction. Bukan, bukan sebab kami punya otak jenius seperti Stanley Kubrick atau Denis Villeneuve, tapi lebih karena kami adalah bangsa alien. Kami cinta mati pada dongeng-dongeng yang sering menyinggung kehidupan rumpun kami.

Benar, alien pun seperti manusia. Narsis. Suka apapun, yang penting relateable dan mewakilkan wajah kaum kami sendiri. Itu kenapa kami suka sekali menyebar artikel tentang alien di media sosial, meski sebenarnya tidak penting sekalipun.

Untung alien jarang punya agama, kami jadi jarang ikut meramaikan timeline media sosial dengan tulisan seputar Tuhan dan pengikutnya.

Baca juga: The Joker – dari Masa ke Masa di Layar Lebar

Silakan intip rekomendasi kami, untuk kalian, para peminat kelas pemula aliran fiksi ilmiah klasik. Kalau beda selera, salahkan yang di atas sana.

Bintang kejora maksud kami.

CONTACT (1997)

Diadaptasi dari novel berjudul sama, karya Carl Sagan, ‘Contact’ punya semua hal yang dibutuhkan oleh sebuah film bergenre sci-fi untuk mendulang sejumlah apresiasi positif. Mulai dari Jodie Foster si wanita cantik nan elegan, lalu Matthew McConaughey sebelum berhasil menjadi pilot di ‘Interstellar’, dan ada Tuan Zemeckis sebagai sutradara, setelah periode keemasan ‘Back To The Future’, serta yang terutama, metafora indah tentang perang filosofi di antara sains dan agama.

BLADE RUNNER (1982)

Harrison Ford dan Ridley Scott adalah kombinasi sempurna untuk para pencinta sci-fi. Apalagi untuk mereka, yang terobsesi oleh noir, sensasi petualangan ala-ala cyberpunk, dan aroma dystopia. Silakan cepat-cepat dicoba, sebelum Oktober nanti sekuelnya tayang di seluruh dunia, lantas menjadi populer, kemudian kalian menyesal, karena terlambat menjadi hipster.

SOLARIS (1972)

Muncul sebelum popularitas R2D2 dan C3PO, ‘Solaris’ menceritakan seorang psikolog yang ditugaskan untuk memeriksa kondisi kejiwaan dari sejumlah kru astronot di stasiun luar angkasa. Lewat ‘Solaris’, Mister Tarkovsky menggambarkan detail bagaimana sepi serta isolasi diri punya hubungan yang begitu erat dengan saraf-saraf kegilaan.

A CLOCKWORK ORANGE (1971)

Stanley Kubrick memang sudah lama dikenal sebagai pencetak film-film berkualitas tinggi, dan ‘A Clockwork Orange’ merupakan salah satu dari sekian juta alasan pendukungnya.

Diadaptasi dari tulisan Anthony Burgess, berjudul sama, ‘A Clockwork Orange’ bercerita tentang seorang pemuda bernama Alexander ‘Alex’ De Large, yang sedang menjalani periode pendewasaan dengan menjalani sejumlah konflik filosofis tentang keinginan bebas.

2001: A SPACE ODYSSEY (1968)

Masterpiece! A pilgrimage to cult-classic Mecca. A pilgrimage to Stanley Kubrick’s world.

‘2001’ bukan cuma menunjukkan kesempurnaan Stanley Kubrick, tapi turut serta mematangkan identitasnya menjadi pencinta metafora dan alegori. Lalu menginspirasi sejumlah sutradara di milenium 2000 untuk menerbitkan sinema-sinema serupa, seperti Christopher Nolan dengan ‘Interstellar’ dan ‘Inception’, Denis Villeneuve dengan ‘Arrival’, atau Richard Kelly dengan ‘Donnie Darko’.

THE DAY EARTH STOOD STILL (1951)

Periode 1950-an boleh saja sering disebut sebagai era sensasional kehadiran alien dan monster di layar lebar, tapi menurut kami, hanya Klaatu yang masih mampu berdiri tegak di abad 20. Kunjungannya ke planet bumi dan pesan-pesannya pada penduduk setempat terlalu indah untuk dilupakan.

METROPOLIS (1927)

Bayangkan sebuah kota besar, berpenampilan futuristik, dengan kondisi masyarakat yang terbagi menjadi dua kelas, pekerja dan penguasa. Lalu dari dua kelompok berbeda tersebut, terciptalah dua manusia, pria dan wanita yang saling mencintai.

Klise? Tunggu dulu.

Freder dan Maria, sepasang manusia dari dua dunia berbeda yang sedang dimabuk asmara itu lantas menciptakan robot wanita sebagai senjata untuk berusaha menguasai kota dan menghapus hukum adat ketidaksetaraan.