Laut Bercerita: Instrumen Agenda Melawan Lupa

0

“Pada Kamis keempat di awal tahun 2007 itu, di bawah matahari senja, di hadapan Istana Negara, kami berdiri dengan baju hitam dinaungi ratusan payung hitam. Kami tak berteriak atau melonjak, melainkan bersuara dalam diam.”

Kutipan di atas muncul pada bagian II novel ‘Laut Bercerita’. Penulis seolah mendatangi pembaca dan mengatakan bahwa aksi Kamisan yang berlangsung hingga sekarang itu, telah terjadi sejak 10 tahun silam. Jangan lupa, dan jangan sampai lupa! Bahwa kita pernah mengalami tragedi pelanggaran HAM berat. Dan pemerintah belum mengadilinya.

Leila S. Chudori kembali menyapa dunia sastra Indonesia lewat novel keduanya, ‘Laut Bercerita’. Menjadi novelis dan juga aktivis kemanusiaan, Leila konsisten melantangkan suara-suara para korban penghilangan paksa. Terhadap aktivis Indonesia, mulai dari peristiwa 1965 hingga 1998. Agenda politiknya jelas, MELAWAN LUPA! 

Baca juga: Annemarie Selinko – Catatan Roman dari Negeri Frankia

Jika pada novel pertamanya, ‘Pulang’, Leila merekonstruksi peristiwa dan menyuarakan perasaan-perasaan eks tahanan politik Orde Baru, pada ‘Laut Bercerita’, ia menuturkan duka dan tangis perjuangan para aktivis di masa pemerintahan Soeharto. Semua ia bungkus dengan semangat yang terus membara pada perjuangan agar pemerintah kembali membuka kasus itu.

Penuturan novel terbagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama oleh tokoh utama, Biru Laut, dan bagian kedua oleh Asmara Jati, adik Biru Laut.

Sepanjang bagian pertama, Biru Laut bercerita tentang aktivitas politik dan kesadaran politik mahasiswa untuk menentang kekuasaan Orde Baru. Peristiwa itu terjadi dalam rentang tahun 1991 hingga 1998. Mulai beraksi, dinyatakan buron, hingga diculik dan dibunuh. 

Sedangkan pada bagian kedua, adalah narasi dari Asmara Jati tentang tekanan perasaan yang dialami oleh keluarga para korban. Mulai dari tahun 2000 hingga 2008 berbagai usaha dilakukan, menuntut pemerintah bertindak, namun belum juga berbuah hasil.

“Matilah engkau mati 

Kau akan lahir berkali-kali…” (hal. 1)

“Kini mereka mengikat tanganku dengan besi pemberat. Tangan kiri. Lalu tangan kanan. Sesekali aku menggeliat, berusaha mencari celah dan kemungkinan meski akan berakhir sia-sia. Aku enggan memberikan tangan dan sengaja mengeraskan kepalku. Salah satu dari mereka manabok mukaku. Ah…

Asinnya darah…” (hal. 4)

Dua kutipan di atas tersemat pada prolog yang dituturkan oleh Biru Laut. Meski hanya sebuah novel, penulis yang juga berprofesi sebagai wartawan, jelas telah melakukan riset matang, barisan kata pun tersaji begitu nyata.

Kisah tragis Biru Laut dan teman-temannya akan mengingatkan manusia-manusia Indonesia pada tokoh-tokoh yang hilang pada catatan sejarah negeri mereka, dan belum kembali hingga sekarang. Data KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) mengungkap ada 22 nama yang diambil paksa dan belum tahu di mana rimbanya.

Kondisi tersebut yang menjadi perjuangan. Kalau mereka sudah wafat, di manakah mereka disemayamkan? Jika mereka masih hidup, pertemukanlah dengan keluarga yang setia menantinya.

“Kami percaya pada kedalaman dan kesunyian laut, dan kami percaya pada terangnya matahari. 

Kami juga percaya Mas Laut, Mas Gala, Sunu, Kinanti dan kawan-kawan yang lain akan lahir berkali-kali.” (hal. 373)

Kutipan di atas adalah narasi dari Asmara Jati pada bagian kedua ‘Laut Bercerita’. Sebuah refleksi dan doa dari Leila, sang penulis, bahwa para pejuang tak akan pernah benar-benar mati. Doa, agar pemerintah segera bangun dari tidur kepura-puraannya, dan manusia-manusia Bumi generasi selanjutnya dapat mengambil hikmah dari sejarah kelam di masa lalu.