Mesin Waktu: Toko-Toko Kaset di Indonesia

1
[91X]

“Hasrat digital menggelora, tapi tetap saja analog yang juara,” ucap Jimi Multhazam sambil berdendang.

Morfem memang berbicara tentang dua anak manusia yang begitu berlainan pada track ‘Planet Berbeda’, tapi sebaris lirik di atas pun cukup beresonansi dengan semangat dari sejumlah toko musik penjual kaset di periode digital seperti sekarang.

Betul, perubahan adalah salah satu yang abadi di alam semesta. Tahun berganti, zaman berjalan maju, teknologi terus berkembang, dan kaset pita bukan lagi media andalan para musisi untuk memutar roda ekonomi. Cukup dengan sekali sentuh di aplikasi gawai, umat manusia sudah bisa mendegarkan karya musisi idola mereka, tanpa perlu bersusah payah lagi.

Baca juga: Black Panther – Melihat Wakanda dengan Enam Seri Komik

Pantas kalau kemudian satu persatu toko-toko kaset mulai berhenti beroperasi. Beruntung, seperti yang sering digaungkan oleh Morfem, analog masih tetap juara di antara gelora digital. Kehadiran pencinta musik yang dicandu suara kaset pita masih banyak terlihat di industri musik.

Bahkan mulai ramai kembali peminatnya. Sejumlah toko musik di kota-kota pun tetap membuka kedainya. Menjajakan kaset-kaset album musik dari dalam dan luar Indonesia. Kalian, manusia-manusia yang seragam dengan Jimi, pun bisa mencoba singgah di toko-toko berikut, untuk melayani hasrat kalian.

Toko Kaset Kartika

Kalau kalian sedang bertolak dari Jogja menuju Magelang, kalian akan menemukan Toko Kaset Kartika yang sudah berdiri sejak tahun 1980-an.

Sayang, meski sudah bertahan lama, Toko Kaset Kartika tetap saja sudah lanjut usia, dan kabarnya juga sedang menunggu waktu saja untuk ikut berhenti beroperasi. Mereka mulai mengalami kemunduran angka penjualan sejak maraknya layanan MP3 ilegal pada medio 2000-an.

Toko Kaset Blok M Square

Mungkin inilah surga terbaik bagi para pencinta kaset pita, dan juga piringan hitam di Indonesia. Benar, kawasan Blok M Square adalah kawasan lalu lalangnya umat manusia penggila album-album musik rilisan fisik.K

Kalian bisa mencicipi mesin waktu dan bernostalgia kembali pada masa-masa kejayaan kaset pita di sekitar Blok M Square. Kalian bisa pergi ke sini dan membeli satu dua buah rekaman fisik milik musisi kesayangan kalian, yang mungkin kini sudah vakum.

Atau ingin mendengarkan suara unik dari piringan hitam? Blok M Square pun menawarkan harga mulai dari puluhan ribu, hingga jutaan.

Toko Kaset Gema Nada Suara

Terletak di Pasar Ngarsopuro, Solo, Gema Nada Suara tidak sekadar menjual kaset, tetapi juga CD dan DVD. Berbeda dengan toko kaset Blok M Square, kaset-kaset yang dijual oleh Gema Nada Suara lebih bernuansa lokal dan nasional, seperti kaset-kaset campursari (lagu berbahasa dan bergaya tradisional Jawa), dan dari musisi lokal Indonesia di masa silam.

Toko Kaset Megah Terang

Berjualan kaset pita di periode milenial jelas bukan pilihan bisnis yang tepat. Tapi bagi Daniel, pemilik toko kaset Megah Terang di Manado, berjualan kaset pita bukan sekadar mencari uang, bukan masalah untung atau rugi. Baginya, berjualan kaset adalah tentang passion dan tentunya, kenangan.

Toko Kaset DU68

Kota Bandung sering disebut sebagai rumah dari musisi-musisi populer Indonesia. Tentu pantas kalau sampai sekarang masih ada sejumlah toko musik penjual rilisan fisik di kota Kembang. Salah satunya toko kaset DU68.

Satu persatu toko-toko kaset memutuskan tutup gerai untuk selamanya, tetapi toko kaset yang terletak di Dipati Ukur ini tetap bertahan hingga sekarang. Setia menjual tak hanya kaset-kaset pita dan piringan hitam, tetapi juga pemutar piringan hitam. Harganya pun cukup terjangkau. Berminat?

Toko Kaset ET-45

Bukan sekadar toko kaset, toko kaset ET-45 yang (lagi-lagi) terletak di kota Bandung ini mengizinkan para calon pembelinya agar dapat terlebih dahulu mencoba mendengarkan kaset di pemutar dengan menggunakan headphone sebelum dibeli. Rasanya seperti menjadi tokoh dalam sebuah film, eh?