Sembilan Harmoni Terbaik dari Film Scoring

5
[Consequence of Sound]

Film bukan tentang visual dan dialog saja, tapi juga tentang musik yang melatari cerita di dalamnya. Entah menyajikan horor atau bahagia, film scoring punya peran sama pentingnya ketika menyampaikan pesan dari si kreator film.

Mari bicara sejumlah karya musik terbaik yang pernah dihasilkan dari balik layar lebar. Ada sejumlah nama ikonik seperti Ennio Morricone, Hans Zimmer, dan John Williams, tapi jangan banyak berharap akan muncul nama-nama dari tayangan ‘Guardians of the Galaxy’.

Ada perbedaan besar di antara film scoring dan sekadar mencomot daftar lagu populer pada masa tertentu.

Baca juga: Album Konsep – Bercerita dengan Musik

‘CHARIOTS of FIRE’ oleh Vangelis

Muncul pertama kali lebih dari 30 tahun yang lalu, torehan Vangelis di belakang layar ‘Chariots of Fire’ merupakan salah satu yang terindah. Bahkan saking terlalu indahnya, sampai-sampai menutupi popularitas filmnya sendiri.

‘IMPERIAL MARCH’ (‘STAR WARS’) oleh John Williams

Susah kalau harus memilih karya terbaik dari John Williams. Bagaimana deskripsi The Beatles di hadapan dunia musik secara umum, begitu pula John Williams di muka industri film scoring. Sang maestro sudah terlalu banyak menghasilkan alunan musik yang begitu nikmat di telinga. Mulai dari ‘Jaws’, ‘Star Wars’, ‘Raiders of The Lost Ark’, ‘Jurassic Park’, ‘E.T’, ‘Home Alone’, ‘Schindler’s List’… and he’s still going.

Tapi pada akhirnya kami mengajukan ‘Imperial March’ sebagai nomor satu dari John Williams.

Kenapa?

Darth Vader.

‘CONCERNING HOBBITS’ (‘THE LORD of THE RINGS’) oleh Howard Shore

Pasang earphone di telinga, sandarkan tubuh, tekan tombol “putar”.

Selamat datang di surga, lupa dunia sudah jadi perkara biasa kalau ‘Concerning Hobbits’ sedang mengisi lubang telinga.

‘PINK PANTHER THEME’ oleh Henry Mancini

Seksi, misterius, dan ikonik. Atmosfer jazz dari Henry Mancini terlalu manis untuk diabaikan dari topik berjudul film scoring. Salah satu barisan nada terbaik yang pernah ditulis di planet Bumi. Dipakai berulang kali oleh sejumlah kreator di dunia film, dari ‘The Pink Panther’ sendiri di tahun 1963, sampai di beberapa seri ‘Warkop DKI’, hingga sketsa-sketsa komedi recehan.

‘LUX AETERNA’ (‘REQUIEM for A DREAM’) oleh Clint Mansell

Sampai sekarang belum ada lagi harmoni yang dapat menyaingi sensasi seram, sedih, mendebarkan, menegangkan, tapi juga menghanyutkan dari karya kedua Clint Mansell di industri film scoring. Ditulis sebagai sebagai latar cerita tentang sisi gelap kehidupan para pencandu narkoba, ‘Lux Aeterna’ memberi lukisan tepat bagaimana masa muda Jared Leto, beserta teman-temannya harus berujung tragis oleh sebab rayuan serbuk surga dunia.

‘JAMES BOND THEME’ oleh Monty Norman dan John Barry

Muncul pertama kali sebagai pembuka installment ‘Dr. No’ pada tahun 1962, selanjutnya menjadi sejarah manis.

‘TIME’ (‘INCEPTION’) oleh Hans Zimmer

Kalau kami menganalogikan John Williams sebagai The Beatles of film scoring, maka Hans Zimmer adalah Radiohead of film scoring. Menghasilkan banyak musik berkualitas dan selalu mencoba sesuatu yang baru, sampai mendorong jauh batas normalitas pencipta harmoni.

‘The Lion King’, ‘Gladiator’, ‘Pearl Harbor’, ‘The Dark Knight’, ‘Pirates of the Caribbean’, ‘Inception’, ‘Interstellar’, adalah sebagian kecil sidik jarinya di kanvas film scoring. Yang terbaik? Mari sebut ‘Time’ sebagai ‘Paranoid Android’.

‘PROSPECTOR ARRIVE’ (‘THERE WILL BE BLOOD’) oleh Jonny Greenwood

‘There Will Be Blood’ bercerita tentang keluarga, agama, ambisi, dendam, dan insanity. Maka wajar saja kalau Paul Thomas Anderson kemudian meminta bantuan pada musisi yang sudah terbiasa dengan tema tersebut.

Hasilnya? Jonny Greenwood bukan lagi sekadar “si jenius multi-instrumentalis dari Radiohead”, tapi sosok yang bertanggung jawab atas suasana klasik, kompleks, karismatik, dan mempesona dari kisah hidup Daniel Plainview.

‘THE GOOD, THE BAD, and THE UGLY’ (MAIN THEME) oleh Ennio Morricone

Menutup daftar, mari menyebut nama ikonik dari film scoring, Ennio Morricone, si jagoan bertema koboi di wilayah barat Amerika.

‘Once Upon a Time in the West’, ‘The Untouchables’, ‘Danger: Diabolik’ merupakan tinta-tinta emasnya di balik layar lebar, tapi kami harus maju bersama ‘The Good, The Bad, and The Ugly’ sebagai yang terbaik dari Morricone. Dengar saja sendiri alasannya.