Alien Baca Novel: To Kill A Mockingbird oleh Harper Lee

0
[flickr.com] Foto oleh Alex Droog.

‘To Kill A Mockingbird’.

Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, ‘Untuk Membunuh Seekor Mockingbird’. Kalau sedang dikategorikan, akan dibariskan di sebelah buku-buku manual perburuan binatang, walau isinya sama sekali tak memberi petunjuk bagaimana caranya membunuh mockingbird. Nyonya Harper Lee justru memaksa pembaca agar jangan pernah punya niat untuk mengambil nyawa seekor mockingbird.

Apa alasannya?

Silakan baca ocehan kami di bawah.

Seperti yang sudah-sudah, mari ingat cerita singkatnya lebih dulu.

[pcwallart.com] Mockingbird… eh, mockingjay ding.

RINGKASAN

‘To Kill A Mockingbird’ berpusat pada kehidupan seorang gadis kecil, bernama Scout, bersama kakak laki-lakinya, Jem, dan ayahnya yang seorang pengacara hebat, dengan identitas super-trendy-sepanjang-masa, yaitu Atticus Finch. Mereka sekeluarga tinggal di kota fiksional tanpa nama – atau mungkin kami lupa sebutannya, di negara bagian Alabama, Amerika Serikat, pada periode the great depression di tahun 1933.

Pada liburan musim panas, Scout, Jem, dan seorang anak lainnya, Dill, sering bermain bersama-sama menghabiskan hari sampai sore, berlari-lari di jalanan kota, atau sekadar main ayunan. Suatu saat, mereka bertiga sedang bosan, lalu memutuskan untuk mengintip rumah tetangga mereka, yaitu Boo Radley.

Boo adalah sosok yang misterius – atau sebut saja weirdo, supaya lebih menarik. Dia selalu mengurung diri di dalam rumah, sampai tak ada satu pun warga kota yang mampu menjelaskan detail bagaimana rupa wajah atau tubuhnya. Hanya isu-isu tanpa kepastian yang dapat membantu Scout and the gang membayangkan figur si misterius.

Setelah berkali-kali singgah di muka pintu pagar, Scout and the gang kemudian mencoba menyelipkan surat ke dalam rumah Boo Radley, mengajak si weirdo jika mungkin saja sebenarnya ia ingin ikut bermain bersama.

Sayang, Atticus malahan kesal, dan meminta anak-anak tersebut mengabaikan Boo Radley.

[tenor.co] Boo versi planet Pixar.

Hari kemudian berganti hari, hingga liburan musim panas usai. Scout dan Jem pun kembali bersekolah. Di hari pertamanya, Scout terlibat perkelahian dengan seorang anak laki-laki usil yang menyebut Atticus sebagai “Nigger lover.”

Setelah dikonfirmasi oleh Scout dan Jem, Atticus lalu mengungkapkan bila ternyata ia sedang membela seorang terdakwa kasus pemerkosaan, bernama Tom Robinson, yang merupakan manusia bumi ras kulit hitam. Tom Robinson dituntut oleh warga kota sebagai pelaku pelecehan seksual terhadap seorang gadis remaja, Mayella, putri dari Bob Ewell, warga kota yang memuja tinggi supremasi ras kulit putih.

Ketika proses pengadilan sampai pada mulainya, Atticus lantas menujukkan kemampuan silat lidahnya yang luar biasa. Saking luar biasanya, ia bahkan mengungkap kenyataan bila sebenarnya Mayella-lah yang memaksakan hubungan seksual kepada Tom Robinson.

Seoarang gadis remaja memperkosa pria ras kulit hitam…

Oh, humani… ukuran memang punya peran penting.

[seriouseats.com] Lebih besar, lebih kenyang. Pakai hitam-hitam sedikit, lebih gurih.

Setelah mengetahui kebenaran tersebut, Bob Ewell lantas melampiaskan rasa malu dan amarahnya pada sang putri, sementara Tom bebas dari jerat tuduhan palsu di muka penduduk kota.

Tapi oh tapi… Nyonya Harper Lee sedang menulis kondisi Alabama di saat periode gelap catatan sejarah Paman Sam, maka Tom Robinson tetap saja dihukum oleh pemerintah kota setempat.

Kemudian mati ditembak 17 kali oleh timah panas.

[giphy.com]

Hari lalu kembali berganti hari, Tom Robinson sudah resmi dihukum, akhir bulan Oktober juga sudah tiba.

Hari itu malam perayaan Halloween, Scout dan Jem baru saja pulang dari pesta kostum di sekolah mereka. Lalu di saat bergegas menuju rumah dan melewati jalanan kota yang sudah mulai sepi, tiba-tiba saja datang Bob Ewell – yang masih merasa malu atas ulah Atticus Finch membela kebenaran, menyerang anak-anak itu dengan pisau tajam.

Beruntung, entah bagaimana bisa dan darimana datangnya, seorang pria muda – yang ternyata adalah Boo Radley, seketika muncul di malam itu dan membantu Scout serta Jem. Si weirdo pun sertamerta menyelamatkan keduanya dari ancaman kematian, menyerang balik Bob Ewell, sampai si pria pemuja supremasi kulit putih terbunuh oleh keperkasaan Boo Radley.

Pada epilog, Nyonya Harper Lee menceritakan bila Finch bersaudara kembali sampai di rumah dengan selamat, tapi Jem harus segera dirawat karena tulang tangannya patah. Sementara pemerintah kota segera bekerja sama dengan Atticus agar menyatakan secara hukum bila Bob Ewell terbunuh akibat mabuk alkohol, terjatuh, lalu tertusuk oleh pisaunya sendiri.

Boo Radley pun bebas dari ancaman hukum.

Kenapa?

Karena Boo Radley adalah seekor mockingbird.

ALEGORI HUKUM BERAT SEBELAH

Ketika mengajarkan Scout dan Jem tentang menembak pistol, Atticus sempat mengingatkan kedua anaknya, bila membunuh seekor mockingbird adalah perbuatan dosa. Ucapan si pengacara lantas diiyakan oleh nona Maudie Atkinson yang tinggal di seberang rumah. Wanita cantik itu mengatakan,

“Mockingbirds don’t do one thing but make music for us to enjoy. They don’t eat up people’s gardens, don’t nest in corn cribs, they don’t do one thing but sing their hearts out for us. That’s why it’s a sin to kill a mockingbird.”

Lewat kutipan tersebut, Nyonya Harper menyatakan bila membongkar cerita kematian Bob Ewell yang sebenarnya dan menjebloskan Boo Radley ke penjara akan sama halnya seperti membunuh seekor mockingbird. Boo sudah menyelamatkan nyawa Scout dan Jem, lalu sepanjang hidupnya pun Boo tak pernah merugikan penduduk setempat. Dia hanya diam di dalam rumah, mengurung diri, dan meminimalisir kemungkinannya berbuat salah di muka khalayak.

Pemerintah kota sudah sadar melakukan kesalahan dengan menghukum Tom Robinson akibat ulah Bob Ewell – si pemeran mockingbird pada konflik sebelumnya, maka mereka tak ingin melakukan kesalahan yang sama pada si weirdo Boo Radley.

‘To Kill Mockingbird’ ditulis oleh Nyonya Harper sebagai senjata untuk menyerang kepincangan hukum di negara-negara bagian Amerika wilayah selatan pada masa the great depression. Ia berulang kali menuliskan bagaimana sekolah, gereja, pengadilan, serta departemen-departemen pemerintah di sekitaran Atticus Finch dioperasikan oleh orang-orang pemuja supremasi kulit putih.

Scout pun pada mulanya diceritakan sebagai anak dengan karakter yang cenderung mendukung rasisme  terhadap manusia-manusia ras kulit hitam. Scout digambarkan oleh Nyonya Harper sebagai bukti nyata bila rasisme bukanlah genetika, melainkan produk dari lingkungan sekitar. Beruntung setelah sering diingatkan oleh Atticus, oleh Maudie, dan lalu bertemu sejumlah kenyataan seperti Tom Robinson, Bob Ewell, dan Boo Radley, Scout jadi bersedia membuka pikirannya dan menerima perbedaan warna kulit sebagai hal yang biasa saja.

Sedangkan di sisi lainnya, salah satu tangan Jem Finch yang patah menjadi alegori bagaimana pincangnya neraca hukum Paman Sam pada masa the great depression oleh ulah fanatisme berlebih sejumlah manusia ras kulit putih terhadap kaumnya sendiri. Yang mana meski tulang-tulangnya dapat kembali sembuh, tapi bekas lukanya akan lama pudar dari pandangan.

[recapguide.com] Homer FTW!

That’s it!

Bagaimana humani?

Sudah dapat petunjuk bagaimana cara membunuh mockingbird?

Sudah kami ingatkan di awal.