Alien Mengenal Indonesia: Lily of The Valley

4
Ilustrasi oleh: Rendy Satria Putra

“[..] kalau kami sendiri belum suka sama lagu kami sendiri, gimana caranya kami minta orang lain bisa suka dengan karya kami?” jelas Lily of The Valley di antara asap nikotin yang berputaran.

Malam itu mendung sedang asyik-asyiknya bercanda di sekitar Renon, kota Denpasar, dan kami baru saja selesai memarkir pesawat piring kami di antara pepohonan rimbun. Menyembunyikan dengan apik, agar para pemburu alien tetap disangka manusia gila, sebab selalu gagal menemukan bukti otentik keberadaan kami.

Setelah menggunakan pakaian menyamar sebagai manusia, kami segera masuk ke halaman depan STIKOM Bali. Kami berjalan gembira dan penuh antusias. Akhirnya kami akan bertemu dengan Lily of The Valley, mendengar, dan melihat langsung penampilan unit folk-rock asal Bali yang namanya sudah bergaung ramai di telinga kami sejak awal tahun 2017 lalu.

Baca juga: Alien Mengenal Indonesia – Under The Big Bright Yellow Sun

Hujan sempat turun beberapa kali dan mengancam penampilan Lily of The Valley pada malam itu, tapi beruntung arus udara masih berpihak pada musik. Angin malam yang kencang dengan cepat menggeser curah hujan dari panggung pertunjukkan.

Lily of The Valley lantas naik ke atas panggung dan mempersiapkan instrumen mereka. Ada satu yang berbeda dari sepengetahuan kami. Mereka tampil dengan formasi tambahan – seorang manusia di balik perangkat keyboard, synthetizer, dan glockenspiel. Berdiri di sebelah Komang, si pembetot bass, yang sebelumnya biasa merangkap memainkan glockenspiel.

Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk melupakan perbedaan tersebut, ketika Baihaki memberi isyarat mulai pada personil-personil band lainnya. Lily of The Valley lalu memulai pertunjukkan dengan satu track begitu megah.

“Talk,” jawab Baihaki ketika kami tanya judul dari track tersebut.

Foto oleh Vidi

Memang masih cukup sulit mengikuti karya-karya dari Lily of The Valley. Meski sudah aktif bermusik sejak tahun 2013, mereka baru resmi merilis satu track saja, ‘I Saw You’, yang juga mereka bawakan di panggung STIKOM Bali. Sebelum menutup penampilan dengan track ‘Fire’.

Pagelaran musik Lily of The Valley malam itu berlangsung tidak lebih dari satu jam. Guyuran hujan sebelumnya terpaksa memangkas durasi penampilan mereka, biarpun malam itu mereka juga adalah bintang utamanya. “Namanya juga alam, Bang – nggak boleh disalahkan. Yang aneh sih kok mereka [penyelenggara] berani ya make manggung yang nggak ada atapnya?” ujar Komang sambil tertawa menyapa kami di belakang panggung. Kami pun sedikit mencium aroma satire dari sapanya.

Begitu singkat dan cepat, tapi begitu megah. Pantas kalau Lily of The Valley tetap bisa bergaung di berbagai panggung, meski belum merilis satu album EP ataupun LP. Hanya bermodalkan merilis satu track saja, mereka sudah pernah tampil di kota Bandung, Jakarta, dan salah satu festival musik besar di Indonesia, Soundrenaline 2016.

Penampilan langsung Lily of The Valley adalah anugerah. Bebunyian gitar, dentum bass, dan permainan drum yang terdengar sejuk, sekaligus dinamis menipu adrenalin – akan membawa para pendengarnya seperti sedang berdiri bebas di atas awan. Lalu kembali membumi di saat karakter vokal Baihaki yang berat mulai menyanyikan lagu.

Bukan masalah lantas kalau Lily of The Valley masih menemukan jalan buntu ketika berbicara album. Mereka bukan sekadar musisi main-main yang ingin cuma menelurkan album, tapi kemudian menguap hilang entah kemana. Menciptakan karya imajinatif sudah sewajarnya membutuhkan waktu panjang. Rencana mereka untuk merilis EP pada pertengahan tahun 2017 pun masih tertunda, demi hasil yang berkelas.

“Kalau kami coba denger lagu-lagu kami sendiri, kami masih belum puas. Kalau kami sendiri belum suka sama lagu kami sendiri, gimana caranya kami minta orang lain bisa suka dengan karya kami?” jelas Baihaki di antara asap nikotin yang berputaran.

Foto oleh Vidi

Bermain bermusik bersama sejak tahun 2013, berbagai macam masalah sudah pernah dialami dan harus diselesaikan oleh Baihaki, Komang Lugiantara, Roy Khun (drummer), dan Ijlal Faiz (gitaris).

Mulai dari susah payah berlatih, pergantian personil akibat pilihan studi dan karir, pergantian nama band, pun mencari panggung pertama agar dapat memperkenalkan diri, pun rela tampil tanpa honor, sementara di saat yang sama sedang mengumpulkan biaya rekaman. Lily of The Valley ingin seluruh perjuangannya berakhir megah – karya yang apik dan punya daya candu di telinga para pendengar.

“Tunggu ya, Bang, di Record Store Day Bali 2018 nanti,” seru Komang Lugiantara malam itu. Menutup perbincangan kami di belakang panggung.