Alien Mengenal Rick dan Morty

9
[inverse.com]

Ibarat Alex Turner dan pomade di tahun 2011, ‘Rick And Morty’ meledak besar di pasaran budaya pop planet Bumi. Mereka mulai menguasai jagat hiburan manusia dewasa, merebut dominasi ‘The Simpsons’, ‘Family Guy’, bahkan meninggalkan jauh popularitas serial ‘Community’ – karya pendahulu Dan Harmon sebelum menuliskan naskah ‘Rick And Morty’.

Kenapa bisa?

Kami seringkali menyebut bila relateable dan make-sense adalah syarat utama karya seni dapat disukai oleh banyak manusia (baca di sini dan di sini supaya lebih yakin). Semua alien tahu akan hal tersebut, dan semua penduduk Bumi pun juga sadar. Maka memaksa semesta memunculkan pertanyaan baru.

Bagaimana ‘Rick And Morty’ bisa terasa relateable dan make-sense oleh banyak manusia di dunia nyata? Padahal cerita utamanya begitu dekat dengan aliran sci-fi. Menyimpang jauh dari realitas biasa, melekat erat bersama imajinasi liar bocah-bocah planet Bumi yang masih lugu serta polos.

Berikut yang kami dapatkan setelah satu minggu penuh mengenal Rick dan Morty.

[popkey.co]

H.P. LOVECRAFT

Serial ‘Rick And Morty’ berpusat pada seorang ilmuwan tua juga super-duper-jenius, bernama Rick Sanchez, yang sedang bosan menjalani periode senja, lalu menghabiskan hari-harinya dengan pergi bertualang melintasi dunia paralel, terkadang juga luar angkasa, bersama cucu laki-lakinya, bernama Morty Smith.

Semacam franchise ‘Back To The Future atau imajinasi Abed Nadir dari serial ‘Community’.

‘Rick And Morty’ adalah serial televisi yang menjelajahi genre science-fiction, juga horor, sampai seluk beluk terdalamnya. Mereka sering memberi penghormatan pada sejumlah karya, tokoh, atau karakter dari rumpun serupa, seperti : ‘Ghostbuster’, David Cronenberg, ‘Nosferatu’, ‘Inception’, Freddy Krueger, dan ‘Zardoz’; bahkan terkadang turut serta menjadikan nama-nama tersebut sebagai referensi untuk plot dari setiap episodenya.

Sementara terus menggali aliran sci-fi dan horor, ada satu kesaamaan yang terus berlaku oleh setiap kisah petualangan Rick dan Morty menembus portal antar dimensi, yaitu, horor kosmik. Sub-genre yang dipopulerkan oleh novelis horor legendaris bernama H.P. Lovecraft, dengan literasi ikonik berjudul ‘The Call of Cthulhu’.

‘Rick And Morty’ bahkan menampilkan sosok monster Cthulhu pada tayangan pembuka serial.

Horor kosmik adalah sub-genre yang menelusuri teror serta ancaman di luar nalar dan logika normal umat manusia. Sering dipakai oleh para penulis fiksi planet Bumi untuk mengimajinasikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan standar namun menyulitkan, seperti “Apa tujuan hidup sebenarnya?” lalu “Bagaimana rupa Sang Pencipta?” atau “Apa yang dialami oleh manusia setelah kematian?”

Lain kata, horor kosmik punya potensi jauh lebih menakutkan daripada sekadar “tengok ke belakang, lalu tiba-tiba ada kuntilanak sedang keramas”.

Horor kosmik memberi manusia sesuatu yang belum pernah mereka tahu pasti kebenarannya, lantas ketika disimak, dapat memberi rasa ngeri, takut, atau menjijikan. Sebab dengan seketika menjadi informasi baru yang dapat mengacaukan realitas yang mereka pegang sebelumnya.

Meski berwajah komedi, ‘Rick and Morty’ senantiasa mempermainkan setiap episode dengan gaya narasi milik H.P. Lovecraft tersebut. Sebagaimana mereka seringkali melompat dari satu dunia paralel ke dunia paralel lainnya, tanpa tahu pasti lebih dulu dunia macam apa yang tersembunyi di balik portal-hijau-antar-dimensi.

Hasilnya?

Terkadang menjijikan, terkadang menakutkan, terkadang mengundang tawa, atau terkadang kombinasi dari setiap perasaan.

Pada episode ‘Get Schwifty’, Dan Harmon malah sampai menulis bila realitas terbaru telah datang mengancam kesejahteraan planet Bumi. Sejumlah asteroid berwajah manusia kaku, bernama Cromulon, mendarat di planet Bumi, lalu meneror penduduk setempat, layaknya ‘Arrival’ karya Dennis Villeneuve.

Entitas kosmik berukuran besar bukanlah dongeng baru pada genre science fiction dan aliran horor kosmik. Sejumlah narasi berbentuk novel, serial, atau film kerap menggunakannya sebagai awal mula konflik cerita. Coba saja lihat ‘Armageddon’, ‘War of The Worlds’, atau makhluk-makhluk ras leluhur pada novel ‘The Call of Cthulhu’ dan ‘The Dunwich Horror’ karya H.P. Lovecraft sendiri.

Hadirnya entitas besar berupa alien dari luar angkasa ini, dapat mengundang sejumlah teka-teki yang menyertai eksistensi penduduk di planet Bumi. Misal, seberapa penting kehadiran umat manusia di alam semesta?

Kisah-kisah science fiction seperti ‘Star Trek’, ‘Star Wars’, ‘Guardians of The Galaxy’, seringkali menjadikan umat manusia – secara metafora, sebagai pusat dari alam semesta. Entah itu menjadi lawan, pemimpin regu, atau teman sepermainan, manusia selalu dijadikan peran utama cerita. Sebaliknya, horor kosmik justru menyerang kondisi tersebut, horor kosmik malah bertanya, “Bagaimana kalau ternyata alam semesta sama sekali tak peduli pada eksistensi umat manusia?”

Memancing depresi dan pesimis adalah hasilnya.

Serial ‘Rick And Morty’ menyatakan dengan sempurna konsep pesimisme ini di muka layar kaca. Mereka berdua bahkan pernah mati, hanya untuk digantikan oleh Rick dan Morty versi lainnya dari dimensi realitas yang berbeda.

‘Rick And Morty’ tak cuma memberi tahu kalau umat manusia hanyalah butiran debu di alam semesta, tapi juga menyebut manusia sebagai butiran debu dari sekian banyak tumpukan debu di dunia paralel tanpa batas.

Yang menarik, Dan Harmon serta Justin Roiland lantas menjadikan pesimisme tersebut sebagai senjata komedi.

But, in the darkest way.

Meski menyatakan umat manusia cuma sebagai debu di antara susunan bintang-bintang, ‘Rick And Morty’ juga menggambarkan bila manusia pun bisa menjadi entitas kosmik bagi debu-debu lainnya. Pada episode ‘The Ricks Must Be Crazy’, diceritakan bila aki pesawat luar angkasa Rick ditenagai oleh alam semesta buatannya sendiri. Berukuran mikro dan menjadi rumah bagi alien-alien berwarna hijau sebesar atom. Lalu di alam semesta buatan tersebut, Rick berperan sama sebagaimana Cromulon atau monster Cthulhu, menjadi entitas horor kosmik.

Macam ‘Inception’. Cosmic-ception.

Dengan jumlah alam semesta yang begitu banyak dan sejuta jenis kemungkinan di luar kultur biasa umat manusia, nilai moral serta eksistensi pun perlahan hilang artinya, yang tersisa hanyalah pesimisme.

NIETZSCHE dan SAINS

Seperti Nietzsche dan filosofinya, ‘Rick And Morty’ senantiasa mempertanyakan eksitensi umat manusia di alam semesta pada hampir setiap episodenya. Entah itu lewat makhluk menggelikan berwarna biru bernama Mr. Meeseeks, atau robot kecil pembawa mentega, atau ketika Morty membujuk kakak perempuannya, Summer, agar membatalkan niat kabur dari rumah.

‘Rick And Morty’ menunjukkan bila logika murni dapat mendekatkan manusia dengan perasaan pesimis akan kehadiran mereka di antara bintang-bintang. Menggunakan formula matematika yang membingungkan, sains mengizinkan umat manusia untuk dapat menebak sejumlah teka-teki tentang alam semesta. Hanya sayang, sebagai makhluk berperasaan, manusia pun harus rela berhadapan dengan fakta suramnya eksistensi mereka di muka semesta.

Sederhananya, sains dapat menghilangkan indahnya tradisi atau emosi, lantas mengubah semua pengalaman hidup manusia menjadi sesuatu yang tanpa esensi lagi.

Rick Sanchez, ilmuwan super-duper-jenius yang mengerti hampanya eksistensi manusia di alam semesta, lantas berlapang dada menerima kenyataan tersebut, meski sebenarnya ia adalah seorang alkoholik dengan slogan “Wubbalubbadubdub!” yang berarti, “I am in great pain. Please help me.”

Sementara di satu sisi ‘Rick And Morty’ punya metafora detail bagaimana sepelenya kehadiran umat manusia di alam semesta, di sisi lainnya, ‘Rick And Morty’ juga melukis jelas bagaimana keraguan umat manusia terhadap realitas keberadaan mereka di dunia sendiri.

Pada salah satu episode, Morty bahkan harus mengalami krisis eksistensi setelah memainkan simulasi kehidupan bernama ‘Roy’. Dimana ia tumbuh dewasa, bekerja, menikah, memiliki keluarga, lalu meninggal, tapi setelah tersadar kembali ke dunia nyata, ia lupa akan kehidupan aslinya. Morty pun mulai bertanya-tanya apa perbedaan di antara simulasi ‘Roy’ dan kehadiran aktualnya,APABILA ternyata ia dapat mengingat semua kehidupan simulasinya, mengalami semua emosi serta sensasi kehidupan, sebagaimana kesadaran manusia biasa.

Ingat Neo dan trilogi ‘The Matrix’?

Krisis eksistensi yang dialami oleh Rick dan Morty sudah sering dihadirkan oleh sejumlah ikon budaya pop, seperti The Joker, Bojack Horseman, atau Homer Simpsons. Tapi menurut kami, salah satu yang terbaik adalah tulisan dari Friedrich Nietzsche yang berjudul ‘The Parable of The Madman’. Bercerita tentang seorang pria yang tiba-tiba datang ke pusat kota, berteriak keras-keras, meracau tanpa henti, “God is dead! And we have killed him!”

Nietzsche menuliskan metafora bila setelah periode pencerahan dan revolusi ilmu pengetahuan, entitas besar di balik alam semesta – Tuhan dan agama, yang sebelumnya memberi umat manusia tujuan hidup dan makna eksistensi, perlahan telah hilang, lenyap habis karena tak lagi relevan. Kemudian, setelah kematian Tuhan dalam filosofi, maka yang tersisa hanyalah nihilisme. Hampa, kosong, cuma mengambang tanpa arah, tanpa makna, tanpa arti, dan tanpa akhir yang jelas.

Pergulatan melawan ‘hampanya arti kehidupan’ adalah karakter yang menegaskan plot serial ‘Rick And Morty’. Rick tanpa henti menggunakan sains untuk melawan mitos, cinta, agama, tradisi, dan hampir segala macam esensi kehidupan dalam kesehariannya. Ia menyebut cinta cuma reaksi kimia, sekolah hanya buang-buang waktu, juga menentang keberadaan Tuhan. Sementara Morty berulang kali harus berhadapan dengan krisis eksistensi dan ambiguitas batas nilai moral, yang mana benar yang mana salah, yang mana baik yang mana buruk, akibat semua ulah jahil dan tak bertanggung jawab oleh kakeknya.

Lantas bagi para penonton, seperti menyimak kisah The Joker, yang menjadi tanya adalah, apa penyebab munculnya sifat nihilist Rick Sanchez pertama kali?

Apa karena dia terlalu cerdas? Tahu segala macam hal?

Atau karena pernah mengalami satu hari yang buruk?

[popkey.co]

That’s it human! Literally two cents penelusuran kami pada serial kartun ‘Rick And Morty’.

Bagaimana? Masih menganggap ‘Rick And Morty’ adalah tayangan komedi?

Sudah ikut-ikutan krisis eksistensi seperti Rick dan Morty?

Sudah terasa relateable?