Alien Mengenal Superhero: Spider-Man

1
[flickr.com] Foto oleh Jane Alderwood.

Untuk sebagian besar humanoid di planet Bumi, reboot Spider-Man untuk yang ketiga kalinya dalam rentang 15 tahun terakhir di layar lebar, memang masih dianggap terlalu cepat untuk dijadikan nyata. Edisi dengan Tobey Maguire dan Kirsten Dunst berakhir pada 10 tahun yang lalu, sementara seri bersama Andrew Garfield dan Emma Stone baru usai di tahun 2014.

Wajar kalau ancaman “bosan” tetap ramai berdatangan, meski segudang kritik positif telah dipanen dari para pengamat film di pekan screening.

Apa Peter Parker lagi-lagi harus mendengar nasihat “with great power comes great responsibility”?

Apa Peter Parker lagi-lagi harus menyaksikan Paman Ben tewas di tepi jalan oleh sebab kelalaiannya?

Apa Peter Parker lagi-lagi harus bimbang di antara pilihan hidup sebagai superhero atau manusia normal?

Maybe yes. Maybe not. Maybe it’s Maybeline.

Baca juga: Enam Hal Terlewatkan dari Trailer Terbaru ‘Spiderman: Homecoming’

Tapi kami berani bertaruh beras sebanyak 3 kg, kalau ‘Spider-Man: Homecoming’ akan jadi installment yang jauh lebih menyegarkan daripada seri-seri pendahulunya.

Kenapa?

Mari berkenalan dengan Si-Manusia-Laba-Laba-Edisi-Layar-Lebar lebih dulu.

SPIDERMAN adalah UNITED STATES of AMERICA

Captain America boleh jadi satu-satunya superhero yang mencatut nama Amerika sebagai bagian dari identitasnya, tapi Steve Rogers bukanlah satu-satunya metafora yang melukiskan karakter dari Negeri Paman Sam. Faktanya, masih ada figur Marvel lainnya yang jauh lebih dekat dengan kata sempurna ketika mencerminkan Amerika Serikat. Lebih dari sekadar sosok pembela yang lemah, lebih dari sekadar sosok pejuang apa yang dirasa benar, dan lebih dari sekadar memuja tinggi kata “bebas” serta “demokrasi”.

Ya, Spider-Man.

Kostumnya saja sudah berwarna biru dan merah.

Sekarang, ketika kami menyebut Spider-Man adalah perwujudan sempurna dari Amerika Serikat, bukan berarti kami menyebut Peter Parker adalah seorang bapak-bapak dengan perut cembung, pencinta junk-food, dan selalu menonton NFL di hari Minggu – seperti Homer Simpsons. Bukan. Bukan seperti itu. Maksud kami, baik Peter Parker atau Spider-Man adalah gambaran tepat bagaimana posisi Amerika Serikat di mata dunia, di planet Bumi.

Setidaknya sampai pada installment terakhir bersama Andrew Garfield.

[disney.wikia.com] US banget.

Spider-Man, a.k.a. Peter Parker, pada mulanya hanyalah humani muda yang tiba-tiba menjadi super kuat, kemudian kalang kabut, nihil akal dan ide harus bereaksi seperti apa terhadap kekuatan barunya – harus digunakan untuk apa, atau perlu diabaikan saja.

Kondisi yang sejalan dengan Amerika Serikat setelah memetik kemenangan di masa Perang Dunia II. Negeri yang juga masih muda usianya, tapi dengan seketika mendapat kekuatan super-duper-masif, sebagai hadiah atas hancurnya dominasi Adolf Hitler, juga Hirohito di kubu Sentral. Lalu, seperti Peter Parker sendiri, Amerika Serikat pun jadi tanpa henti diserang linglung oleh status barunya.

Amerika Serikat bukanlah negeri yang memiliki sejarah panjang untuk membantu mereka menentukan kompas moral, layaknya Peter Parker yang tumbuh tanpa sosok orang tua untuk memberinya pedoman hidup. Faktanya, Si Parker Muda justru hanya punya satu nasihat di ingatannya untuk memberi panduan terhadap super-power-nya.

Humani, kalian tahu betul kalimatnya.

“… with great power, comes great responsibility.”

Kutipan populer dari Paman Ben merupakan cerminan dari sejumlah ide tentang eksepsionalisme Amerika Serikat – konsep yang menyebut kalau Paman Sam adalah negeri yang keren, trendy, dan masa kini, sehingga punya tanggung jawab untuk memimpin seluruh negeri di planet Bumi.

Anyway, filosofi tersebut terbungkus rapi oleh “the city upon a hill”, salah satu metafora yang diambil dari Perjanjian Baru, oleh kolonis Amerika Serikat untuk menjelaskan misi utama mereka – menjadi lentera harapan bagi seluruh humanoid di planet Bumi.

“The city upon a hill” adalah fondasi utama narasi Spider-Man di layar lebar, baik ketika bekerjasama dengan Tobey Maguire atau Andrew Garfield (mungkin juga akan serupa dengan edisi bersama Tom Holland).

Pada masing-masing adaptasi, Peter sama-sama harus bergulat menghilangkan beban dari kekuatan supernya, sementara di batinnya terus menggema tuntutan tanggung jawab moral untuk menggunakan kekuatan tersebut sebagai alat keadilan.

Persteruan sengit yang menggambarkan dua filosofi dari penduduk Amerika Serikat.

The Reluctant Sheriff’ dari Richard Haass dan ‘The American Jeremiad’ dari Sacvan Bercotvitch.

‘The Reluctant Sheriff’ mengadapatasi kisah klasik koboi favorit dari semua pencinta film, Blondie (Clint Eastwood), pada ‘The Good, the Bad, and the Ugly’, lalu mengaplikasikannya hampir di setiap kebijakan internasional Paman Sam – Amerika Serikat sebenarnya enggan memaksa keteraturan internasional, tapi sebab tak ada lagi sosok yang powerful selain Si Elang Botak, maka tugas menjadi pemimpin planet Bumi pun terpaksa diterima.

Sederhananya, Amerika Serikat menolak kuasa untuk menyusun regulasi politik internasional, tapi mau tak mau harus bersedia, untuk mencegah lahirnya kembali gelombang kejahatan dan kekerasan.

Demikian pula dengan Peter Parker – baik Maguire atau Garfield, sama-sama ragu kalau mimpi dan obsesi mereka sejak kecil adalah benar menjadi seorang Spider-Man. Tapi, pada akhirnya merasa wajib untuk mengambil peran superhero di kota New York.

Coba lihat lagi konflik pribadi berkepanjangan di dalam kehidupan Peter Parker sehari-hari sebagai pahlawan kota. Pada tahun 2002 sampai tahun 2007, ia harus berkali-kali terlambat datang ke kelas, datang ke acara makan malam Thanksgiving, datang ke pentas Mary Jane di panggung opera, semua akibat ia terpaksa berduel dengan para penjahat kota. Sementara ketika diperankan oleh Garfield, ia mesti melewatkan pidato kelulusan Gwen Stacy, karena terjebak tugas untuk menangkap Paul Giamatti.

Menurut Haass, ‘The Reluctanct Sheriff’ juga perlu membentuk “barisan pembantu”, sekelompok manusia yang bekerjasama dengan Sang Sheriff demi nasib baik dari kota mereka.

Sementara pada Spider-Man?

He’s literally ‘The Friendly Neighborhood Spider-Man’.

Pada tahun 2004, sejumlah New Yorker membantu Maguire ketika berhadapan dengan Green Goblin; dan pada tahun 2005, sejumlah New Yorker membantu Maguire menjaga identitas rahasianya, setelah berhadapan dengan Doctor Octopus; sementara pada 2012 dan 2014, penduduk New York juga bergantian membantu Garfield menghentikan beringasnya Si Kadal Hijau Raksasa dan Electro di pusat kota.

Tapi sayang, biar sudah dibantu oleh banyak humanoid Bumi, beban menjadi seorang Spider-Man masih terlalu berat untuk Peter Parker. Pada seri ‘Spider-Man 2’, Peter akhirnya mengeluh terhadap bayangan Paman Ben, lalu menyatakan enggan untuk terus bertindak sebagai superhero, sebab tanggung jawab tersebut mengacaukan kehidupan pribadinya. Dan pada ‘The Amazing Spider-Man 2’, Peter juga memberi pengakuan yang sama kepada Gwen Stacy.

Momen “menyerah” inilah yang kemudian menjadi pintu masuk ‘The American Jeremiad’.

Menurut Sacvan Bercotvitch dan William Spanos, ‘The American Jeremiad’ menegaskan bila sudah menjadi titah Tuhan agar Amerika Serikat menjaga, menyelematkan, dan memimpin planet Bumi.

Semacam ‘The Reluctant Sheriff’, tapi ada esensi magis yang menggelikan.

Misal, jika Amerika Serikat kehilangan fokus sebentar saja untuk menyebar demokrasi, pesan “kebebasan”, dan kompas moralnya kepada seluruh dunia – umat manusia di planet Bumi akan cepat menemukan akhirnya.

Persis seperti apa yang terjadi pada kedua seri installment Spider-Man.

Pertama, tengok lagi bagaimana Paman Ben menghembuskan nafas terakhir. Baik pada edisi Toby Maguire atau Andrew Garfield, Paman Ben sama-sama meregang nyawa oleh sebab Peter Parker memilih cuek pada penjahat yang lewat santai di depan matanya. Pilihannya untuk mengabaikan nilai moral lantas berujung tragedi – menjadi pecut keras di ingatannya, kalau sekali saja ia mengabaikan tanggung jawab dan tuntutan moral kekuatan supernya… orang-orang di sekitarnya bisa bernasib sama dengan Paman Ben. Serupa ketika Peter memutuskan menyerah dari kehidupan superhero, kriminal di kota New York pun lantas meningkat tajam ke udara – memberi kesempatan bagi Doctor Octopus dan Paul Giamatti untuk mengancam nyawa-nyawa penduduk kota.

Kondisi yang lantas menyadarkan Peter Parker agar segera kembali menjadi Spider-Man, demi keutuhan hidup umat manusia setempat.

Selain itu, bukan hanya ‘The Reluctant Sheriff’ dan ‘The American Jeremiad’ saja yang menjadikan Spider-Man edisi layar lebar sebagai metafora terbaik untuk Amerika Serikat. Situasi lingkungan di negeri Paman Sam turut serta mengambil peran fondasi bagi narasi kehidupan superhero Tobey Maguire dan Andrew Garfield.

Pada edisi Maguire, Peter Parker dideskripsikan layaknya kebijakan Amerika Serikat di periode tahun yang sama, di level internasional – keras, terburu-buru menyatakan perang, dan mengandalkan kekuatan yang kasar untuk menghentikan para lawan. Tak ada kata negosiasi dengan Green Goblin, Doctor Ock, atau The Sandman.

Sementara Andrew Garfield, lebih menampilkan sosok yang lembut dan lunak dari Spider-Man. Ia selalu mendahulukan cara persuasif untuk mempengaruhi para penjahat agar berhenti mengganggu penduduk kota.

Menjaga keutuhan moral lewat kebijakan keras ala-ala George W. Bush pada edisi Maguire, atau lewat kebijakan persuasif ala-ala Barack Obama pada edisi Andrew Garfield.

[moviepilot.com] Tobey atau Andrew? Jawabnya Marisa Tomei.

LALU BAGAIMANA dengan ‘SPIDERMAN: HOMECOMING’?

Salah satu alasan kenapa kami berani bertaruh Spider-Man edisi Tom Holland akan lebih segar daripada dua pendahulunya adalah keberadaan Tante Tomei.

Sekali lagi, Marisa Tomei.

[screenrant.com] Duh, senyum yahut.

Maaf, hilang fokus sebentar.

Kembali lagi pada “alasan kenapa kami berani bertaruh Spider-Man edisi Tom Holland akan lebih segar daripada dua pendahulunya”.

Amerika Serikat bukan lagi satu-satunya negeri yang dipandang berpengaruh di dunia – bukan satu-satunya negeri yang punya kekuatan super untuk mengemban tanggung jawab sebagai penjaga dan pemimpin dunia. Kanada, Rusia, United Kingdom, Jerman, Swedia, Jepang, Cina, Arab Saudi, sudah ikut masuk ke dalam kategori yang sama.

Persis seperti kondisi Spider-Man di sinematik Marvel sekarang – dia sudah bukan satu-satunya superhero di planet Bumi. Ada Iron Man, Captain America, Hulk, Thor, Black Widow, Vision, Scarlet Witch, Black Panther, Ant-Man – sederhananya, sudah ada The Avengers. ‘The Reluctant Sheriff’ dan ‘The American Jeremiad’ tentu melenceng jauh kalau dipakai lagi oleh Marvel sebagai fondasi utama Spider-Man edisi layar lebar. Tony Stark bahkan sudah beri indikasinya di saat ia berulang kali menyuruh Peter Parker agar duduk di pinggiran saja, tidak usah banyak-banyak ikut campur permasalahan kompleks superhero di sinematik Marvel.

“… just be Good friendly neighborhood Spider-Man.”

Semacam petuah yang dianggap tepat oleh sebagian besar penduduk Bumi untuk Amerika Serikat sekarang… kalau mengingat nama Donald Trump.

That’s it people!

Alasan kenapa ‘Spider-Man: Homecoming’ akan jauh dari ancaman kata “membosankan”.

Setuju? Kalau kontra, salahkan yang di atas, terus komen di bawah saja.

Salam tepuk perut dari Sigurian.