Alien Nonton Film: Arrival

4
[imgur.com] Foto oleh 'iscarpe'.

Villeneuve menujukkan kelasnya. Bersama ‘Arrival’ ia berhasil mengupas fondasi utama komunikasi, adalah bahasa dan perspektif.

Kami sedang ingin menelanjangi ‘Arrival’, karya Dennis Villeneuve. Sinema layar lebar nomor satu di planet Bumi tahun 2016. Bukan cuma sebab bercerita tentang kunjungan wisata para alien planet Cromulon, tapi justru akibat isinya jauh lebih penting daripada sekadar menyelipkan gimmick-gimmick standar aliran fiksi ilmiah.

‘Arrival’ menggali lebih dalam perihal komunikasi, bahasa, dan perspektif.

Seperti yang sudah-sudah, [SPOILER ALERT], mari mengingat narasi selengkapnya lebih dulu.

Baca juga: Alien Mengenal Rick dan Morty

RINGKAS CERITA

‘Arrival’ dimulai oleh montase Amy Adams yang dengan senang hati merawat putrinya, dari masih berbentuk janin hingga remaja. Namun nantinya justru bersedih karena si buah hati harus meninggal akibat penyakit terpopuler di planet Bumi, kanker.

Hari kemudian berganti baru.

Amy adalah seorang professor linguistik di salah satu perguruan tinggi di negeri Paman Sam. Pada suatu pagi Amy seharusnya menyelesaikan tugas memeriksa sejumlah tugas yang sudah dikumpulkan oleh para anak didiknya. Tapi sekelompok umat manusia dari kemiliteran tiba-tiba masuk ke ruangannya, mengejutkannya, lalu segera meminta bantuan.

Manusia-manusia militer tersebut membutuhkan pertolongan Amy, sebab menurut Villeneuve, dia adalah penerjemah terbaik di seluruh penjuru Bumi. Sementara ada sejumlah UFO – tepatnya 12 pesawat, berbentuk seperti kuaci, baru saja mendarat di beberapa tempat di permukaan Bumi, dan salah satunya adalah di Amerika Serikat.

Amy lantas bekerja cepat untuk menyimpulkan bahwa para alien berkomunikasi tidak dengan suara ataupun bicara, melainkan dengan lukisan berbentuk lingkaran pada layar putih seperti iPhone 10S. Meski sayangnya dia masih membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk memastikan tujuan para alien datang ke bumi. Di tengah-tengah pekerjaannya Amy bahkan juga sempat terjebak adu argumen dengan si pemimpin operasi, setelah ia menerjemahkan salah satu kalimat dari para alien sebagai, “Use weapon.”

Pada belahan dunia lainnya, pihak Tiongkok sudah mengumumkan bahwa kekuatan militernya berencana untuk menyerang salah satu UFO lainnya, yang mendarat di wilayah lepas pantai Shanghai.

Amerika mulai mengikuti, negara-negara lain ikutan juga. Maklum. Hipster.

Amy percaya kalau para Cromulon bukanlah ancaman bagi keselamatan dunia. Ia bergegas pergi masuk ke dalam UFO lagi, dan berusaha memperingatkan para alien. Lalu dengan perasaan menyerah, dan juga muak ia kembali bertanya kepada para alien. Amy menggunakan bahasa manusia, apa tujuan sebenarnya mereka mampir ke planet Bumi.

Balasannya?

Salah satu alien, Costello, ternyata dapat berbicara lancar dengan Amy. Dia menjelaskan kalau montase pada awal film sebenarnya adalah narasi untuk masa depan. Costello juga memberitahu Amy kalau tujuan para alien datang ke Bumi adalah untuk membagi ilmu bahasa kepada umat manusia.

Bahasa alien dari Costello begitu unik. Apabila sudah dikuasai, entah bagaimana bisa, akan dapat membantu umat manusia menjelajahi waktu. Costello juga meminta Amy agar mendidik seluruh umat manusia untuk berbahasa alien, sebab pada 3000 tahun ke depan mereka akan membutuhkan bantuan umat manusia untuk…

Ah, kami lupa untuk apa.

Amy lalu kembali ke tenda militer dan diperintahkan pulang. Pemerintah Amerika Serikat sudah puas akan hasil kerjanya, dan segera bersiap-siap menyerang para alien, mengikuti reaksi Jenderal Shang dari negeri Tiongkok.

Kebingungan mencari ide agar dapat menunda serangan, Amy seketika mendapati dirinya sedang berdiri di masa depan, tepatnya di tengah-tengah pesta. Dimana Jenderal Shang tiba-tiba menghampirinya, mengucapkan terima kasih karena sudah membujuk agar menghentikan serangan terhadap pesawat-pesawat kuaci para alien.

Jenderal Shang lalu memberi nomor telepon pribadinya kepada Amy, dan berbisik-bisik sambil mendesah dalam bahasa Mandarin.

Amy kembali lagi ke lini waktu masa kini, menghubungi Jenderal Shang, menggodanya, merayu-rayu nakal, supaya sang jenderal membatalkan serangan. Sebab Amy memiliki suara seksi, sang jenderal setuju saja. Alien pun senang, kemudian hilang, pulang tak bilang terima kasih. Alien tidak tahu sopan santun.

Pada epilog, Amy lantas bercerita kalau ia bersedia membalas cinta Jeremy Renner dengan cinta juga, walau ia sudah tahu bila nanti di masa depan Jeremy akan menjadi ayah dari putrinya yang akan mati, dan pergi meninggalkannya demi hobi membela dunia dengan The Avengers.

SUDUT PANDANG

Lupakan perihal plot-twist yang menurut sejumlah penonton adalah sedikit dipaksakan, lupakan alur cerita yang menyerupai ‘2001: A Space Odyssey’ atau ‘The Day The Earth Stood Still’, mari gali saja penawaran dari Villeneuve.

Perspektif di dalam komunikasi.

‘Arrival’ melukis sempurna reaksi umat manusia bila bertemu pergeseran kerangka berpikir yang mendalam.

Kedatangan umat alien ke Bumi merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan usaha manusia untuk menerapkan pemahaman pada situasi tersebut pun masih berujung tumpul – seperti yang sering digambarkan oleh film-film dengan tema serupa.

Kebingungan umat manusia diwakilkan oleh scene di saat Amy dan Hawkeye memasuki UFO untuk pertama kalinya, dan mendapati arah gaya gravitasi yang berbeda – membagi pengalaman disorientasi di dalam film kepada para penonton dengan memanipulasi struktur tradisional film-film di planet Bumi.

Setelah merasakan disorientasi, Amy dan Hawkeye lalu bertemu layar putih terlalu lebar, serupa iPhone 10S atau Samsung Galaxy Notes, manjadi momen untuk menggambarkan sumber (klise) dari mana datangnya pergeseran persepsi – media layar kaca (televisi, laptop, smartphone), sebagai media informasi yang paling sering dikonsumsi oleh penduduk Bumi.

iPhone 10000S

Manusia, sebagai penonton dan sudah sering menyimak film, sering terbiasa menaruh ekspektasi pada tradisi tertentu. Misalnya, narasi ‘Arrival’ akan berjalan linier dan alurnya terang-terangan saja tanpa permainan metafora atau alegori – mengingat tema-tema tentang alien memang selalu begitu. Alien datang, manusia ketakutan, lantas ujung-ujungnya berperang.

“We are so bound by time. By its order (Kita begitu terikat dengan waktu. Oleh aturannya),” sebut Amy.

Sudah terjebak ekspektasi, penonton pun lantas dibuat kehilangan akal sehat sesaat. Sejumlah adegan disajikan lewat orientasi berbeda. Mulai dari sajian kondisi upside-down, perspektif yang membingungkan, dan alur cerita kilas maju-kilas balik menyatu jadi satu bagai lingkaran.

“Now I’m not so sure I believe in beginnings and endings (Sekarang aku tidak yakin kalau aku masih percaya pada awal dan akhir),” Amy mencoba menjelaskan keraguan perspektif.

Filosofi ‘Arrival’ sering dipakai oleh para seniman, dan biasa diinspirasi oleh James Turrell, dengan karya berjudul ‘Breathing Light’.

‘Breathing Light’ merupkan salah satu karya seni yang mengeliminasi persepsi mendalam, menghapus ekspetasi awal seseorang pada lingkungannya, supaya ia hidup lebih santai menikmati oksigen.

Ibarat kondisi para penonton ketika tersadar kalau ‘Arrival’ bukanlah cerita klise tentang alien, dengan adegan-adegan fantastis berupa perang seperti ‘Star Trek’ atau ‘Alien vs. Predator’. ‘Arrival’ justru menyajikan kisah menyentuh dari seorang professor lingusitik yang ingin menunjukkan bila komunikasi bukan sekadar masalah bahasa atau terjemahan, tapi juga perspektif. Sudut pandang.

Pertama, Amy menyebutkan, “We don’t know if they understand the differences between a weapon and a tool (Kita tidak tahu jika mereka mengerti perbedaan di antara senjata dan alat).”

Lalu setelah ia semakin fasih berbahasa alien dan menerima efek sampingnya – menjelajahi waktu, Amy mampu menempatkan dirinya pada sudut pandang para alien.

“The weapon is their language. If you learn it, when you really learn it, you begin to perceive time the way that they do. So you see what’s to come. But time, it isn’t the same for them. It’s non-linear (Senjatanya adalah bahasa mereka. Kalau kau mempelajarinya, ketika kamu benar-benar mempelajarinya, kau akan melihat waktu seperti cara mereka. Kau melihat apa yang akan terjadi. Tapi waktu, tidaklah sama bagi mereka. Waktu bagi mereka tidak bergaris lurus).”

Seperti momen ketika Villeneuve mengungkap jika cerita di antara Amy dan putrinya adalah kilas maju, bukan kilas balik. Non-linear. Dasar mengapa para Cromulon berbicara menggunakan huruf-huruf berupa lingkaran, dan kenapa Amy memberi putrinya nama ‘HANNAH’.

Palindrom. Awal bisa akhir. Akhir juga awal. Putar terus sampai pusing.