Alien Nonton Film: Fight Club

2
[suwalls.com]

Mari kembali menggali isi kepala David Fincher. Salah satu manusia yang bertanggung jawab besar atas sejumlah kritik positif untuk ‘Gone Girl’, ‘The Curious Case of Benjamin Button’, ‘The Social Network’, ‘Se7en’, ‘Fight Club’, dan ‘Zodiac’. Penduduk planet bumi yang gemar menciptakan seni layar lebar dengan tema satire, hanya untuk bersenang-senang.

Oleh karena kami adalah Sigurian jantan pencinta Ernest Hemmingway, mari bicara ‘Fight Club’ saja, daripada karya-karya David Fincher lainnya.

Seperti yang sudah-sudah, SPOILER ALERT, narasi singkatnya lebih dulu.

RINGKASAN

Cerita dimulai oleh seorang manusia tanpa nama – sebut saja Edward Norton untuk selanjutnya. Norton sedang menderita hatinya, sebab kemampuannya untuk bisa tidur sudah hilang entah kemana. Kondisi yang menurut penduduk di planet Bumi adalah ‘insomnia’. Atau kalau menurut manusia-remaja-gaul adalah begadang sebentar, tapi nanti bangun kesiangan.

Suatu ketika, Norton berkenalan dengan Tyler Durden. Manusia jantan dengan level maskulin di atas rata-rata. Berbeda dengan dirinya yang pekerja kantoran, Durden menjalani harinya-harinya sebagai manusia serabutan. Kadang menjual sabun, kadang menjadi pelayan restoran, kadang juga iseng menyelipkan foto penis pada reel-reel film di bioskop tempatnya bekerja paruh waktu.

Norton dan Durden lantas berteman dekat, lalu mulai saling meninju wajah satu sama lain. Yang mana ternyata dapat membantu Norton untuk dapat tidur lelap. Kegiatan tinju-meninju pun kemudian jadi rutinitas di setiap malam bagi mereka berdua.

Malam berganti malam, satu per satu pria di kota mulai menaruh perhatian pada kegiatan unik Norton dan Durden. Mereka tertarik, dan ikut serta saling meninju satu sama lain – maklum, hipster. Sebab jumlah pria yang ikut bergabung semakin banyak, maka terbentuklah ‘Fight Club’.

Sudah bosan cuma saling menukar tinju, Durden mulai menjalankan proyek yang lebih besar daripada sekadar mencari pukulan – masih serupa ‘Fight Club’, namun senjatanya bukanlah kepalan tangan, melainkan api, gasoline, dan ledakan. Sementara korbannya adalah mobil-mobil mewah, toko-toko elektronik, kedai-kedai kopi kelas atas, dan alkitab. Durden juga memulai ‘Project Mayhem’ – tujuan akhirnya adalah meratakan seluruh gedung pencakar langit di kota dengan Bumi.

Menuju epilog, David Fincher memberi kejutan yang membingungkan. Norton ternyata menyadari kalau dirinya dan Tyler Durden adalah manusia yang sama. Dia punya kepribadian ganda.

Norton dan Durden lalu berdebat panjang lebar tentang ‘Project Mayhem’.

Tak ingin berakhir menjadi teroris, Norton segera menembakkan pistol ke dalam mulut, sedikit miring ke arah pipi, agar dapat membunuh eksistensi teman khayalannya, Tyler Durden. Yang lalu entah mengapa berhasil. Mungkin benar adanya kalau teman khayalan itu hidup di gigi geraham.

Sayang, meski sudah berdarah-darah, Norton gagal menghentikan laju sejumlah bom waktu di penjuru kota.

Ledakan pun jadi akhir cerita, gedung-gedung runtuh, dan Norton malah senang gembira. Sebab bagi dirinya tidak ada lagi yang lebih penting selain dapat memegang tangan seorang wanita.

PENJARA NYAMAN BERNAMA KAPITALISME

David Fincher dan satire adalah romantisme yang begitu awet. Susah dipisahkan, susah berdiri sendiri, seperti Nirvana dan ‘Nevermind’, seperti Rick dan Morty.

Lewat ‘Fight Club’, David Fincher memakai Durden sebagai alat katarsis dalam perangnya melawan rasa frustasi akan sisi gelap budaya kapitalisme di Amerika. Kapitalisme kalau menurut Sigurian itu… sejenis gaya hidup yang memperbolehkan umat manusia untuk membeli identitas, sebab membentuk karakter dari level dasar jauh lebih melelahkan, jauh lebih lama, daripada langsung beli saja.

Semacam klub sepakbola Manchester United selepas periode Sir Alex Ferguson.

Efek gelap kapitalisme itu pun diselipkan oleh Norton ketika ia bicara perihal apartemennya yang penuh oleh furnitur dari negeri Viking, IKEA.

Norton sering menghabiskan waktu senggangnya dengan membaca katalog furnitur dari IKEA, lalu tanpa henti menghabiskan uangnya untuk membeli setiap furnitur yang menarik perhatiannya. Tapi sayang, meski sudah punya banyak furnitur, Norton justru merasa hampa. Pergi ke kantor pukul 08.00, pulang pukul 17.00, sampai di rumah, lihat katalog, lantas belanja. Esoknya? Kembali berulang sama.

Norton merasa hidupnya ramai oleh perhiasan saja, ekstra nyaman, namun tanpa substansi.

“How embarassing, a house full of condiments and no food.”

Beruntung Norton bertemu Durden ketika tertidur di pesawat. Pria rambut pirang itulah yang kemudian menjadi batu loncatan agar ia bisa bebas, lepas dari jeratan eksistensi yang nihil. Lewat Fight Club, lewat rasa perih, rasa sakit, lebam, darah, dan kekerasan, Durden menegaskan kembali arti kehadiran seorang pria di planet Bumi, dengan pidato yang tajam menyayat otak.

Di hadapan budaya kapitalisme yang rentan memaksa umat manusia agar cepat-nyaman-lalu-merasa-hampa, Durden menawarkan Norton agar terlahir kembali melalui rasa sakit. Lantas kalau sudah terlahir kembali, datanglah kehidupan yang baru. Ia bukan lagi sekadar pekerja kantoran, bukan sekadar buruh berkerah putih di balik penjara bernama perintah, upah, dan furnitur.

Durden pun menggunakan ‘Project Mayhem’ sebagai usahanya menghancurkan sejumlah simbol budaya kapitalisme di Amerika, yang ia anggap jadi sumber obsesi gaya hidup nyaman. Ia merusak mobil-mobil mewah, kedai-kedai kopi dengan harga kopi yang super-duper-mahal, toko-toko elektronik, dan juga alkitab – salah satu buku best-seller di planet Bumi.

Pada akhirnya? Durden dan Fight Club berhasil meruntuhkan gedung-gedung pencakar langit di kota, yang merupakan rumah dari sejumlah perusahaan besar. – Simbol kuat runtuhnya penjara maskulin dan karakter yang ia beri nama kapitalisme.

Sementara Norton sendiri, sedang lupa rasa sakit di pipi, sebab riang gembira bisa memegang tangan Marla Singer.

Damn, uh, damn…

Begitulah ‘Fight Club’, humani. Hati-hati kalau merasa nyaman. Kalau merasa nyaman nanti bisa punya teman khayalan.

Penutup, mari dengarkan ‘Where Is My Mind’ oleh Pixies.