Alien Nonton Film – Star Wars Episode IV: A New Hope

3
[imgur.com]

Mumpung sedang hari spesial untuk para penggila perang bintang, mari bicara tentang ‘Star Wars’. Mumpung sedang tanggal 4 Mei, mari bicara installment yang bernomor 4, tapi juga yang nomor pertama kalau menurut waktu perilisan.

Bingung? Memang. Begitulah tips dan trik jika ingin menghasilkan film populer.

Tak percaya? Lihat saja ‘Inception’ dan ‘Arrival’.

A New Hope’ adalah salah satu bukti nyata bagaimana imajinasi George Lucas berhasil mengubah laju industri film di akhir masa 1970-an.

Kenapa bisa?

Seperti biasa, SPOILER ALERT, ringkasan ceritanya lebih dahulu.

RINGKASAN

‘Star Wars IV: A New Hope’ mengisahkan seorang remaja-banyak-minta bernama Luke Skywalker, yang hari-harinya cuma habis untuk bermain di sekitar rumah saja, karena ia tidak punya teman satu orang pun.

Suatu hari paman dan bibinya merasa iba, maka mereka membelikan Luke dua robot bekas, R2D2 dan C3PO, sebagai teman bermain yang baru. Sayang, tiba-tiba saja tempat tinggal Luke Skywalker diserang oleh sekelompok stromtropper, lalu menewaskan paman dan bibinya.

Luke, R2D2, dan C3PO lantas pergi mencari Obi-Wan Kenobi, seorang tetangga dengan mulut tanpa henti dan selalu bicara bagaimana dirinya mengenal ayah Luke Skywalker.

Untuk menghilangkan rasa sedih, Obi-Wan kemudian mengajak Luke beserta robot-robotnya pergi ke satu bar kecil untuk minum-minum, lantas bertemu Han Solo. Humanoid entah darimana asalnya, bertipe slengean, keren, trendi, masa kini, dan selalu ditemani oleh sesosok bigfoot, Chewbacca.

Sudah puas minum-minum, kegiatan selanjutnya adalah mencari wanita. Oleh sebab itu, pergilah Obi-Wan Kenobi, Han Solo, Chewbacca, Luke Skywalker, R2D2, dan C3PO menuju klub dansa favorit semua penduduk galaksi, Death Star.

Sampai di sana, mereka berjumpa dengan gadis-super-duper-ultimate seksi, bernama Leia Organa, untuk dibawa pulang ke rumah. Tapi, karena Obi-Wan lupa membawa uang tunai, maka salah satu bouncer berpakaian serba hitam segera datang mencegah mereka untuk pulang.

[StarWars.com] May the force be with you, Fisher!

Berhubung sudah tua, Obi-Wan mengorbankan dirinya sambil tertawa gembira, sehingga Luke dan teman-teman barunya bisa pergi kabur tanpa cidera berarti.

Kesal dan ingin balas dendam, Luke dan teman-teman kembali mengunjungi Death Star. Kali ini mereka berniat membunuh Darth Vader, lalu menghancurkan Death Star atas nama The Force.

Mereka berhasil.

Setelahnya, Luke dan teman-teman dipaksa mengikuti sebuah acara seremoni, dimana Luke dan Han Solo mendapat medali penghargaan, sementara Chewbacca tidak dapat. Begitu pula pilot-pilot lainnya, dan juga orang-orang yang sudah membantu rencana pemberontakkan.

Tough break, losers!

RELIGIUS ITU PENTING

Narasi ‘Star Wars Episode IV’ dipengaruhi oleh banyak sekali model cerita fiksi di luar sana. Salah satu yang utama adalah model grafis “perjalanan pahlawan” oleh Joseph Campbell, menyajikan langkah-langkah seperti, panggilan bertualang, melewati rintangan, dan… jatuh cinta pada saudara sendiri.

[sfcenter.ku.edu] Awal mula jadi klise, nih…

Model narasi milik Joseph Campbell sering dipakai oleh sejumlah film legendaris di sebelum periode kemunculan ‘Star Wars’. Ada ‘The Hidden Fortress’ di tahun 1958 (menggunakan dua orang karakter yang kesepian sebagai senjata untuk menggerakkan cerita agar maju ke depan), atau ‘The Searchers’ di tahun 1956 (menceritakan seorang pria yang menemukan rumahnya hancur dilahap api).

Untuk semakin menguatkan ajaran Joseph Campbell, ‘Star Wars Episode IV’ turut serta memakai atmosfer religius dan metafisika, The FORCE.

The Force merupakan suatu macam kekuatan, yang tembus pandang, susah dibayangkan, tapi mitosnya bisa dirasakan, selama para alien atau humanoid PERCAYA pada kehadirannya.

Sederhananya… semacam tukang parkir.

Ah, maaf, maksudnya Tuhan.

“Hokey religions and ancient weapons are no match for a good blaster at your side, kid.”

Etos kerja dari budaya Jedi pun merepresentasikan ajaran TAOISME di planet bumi, yang menyebutkan kalau ada kekuatan bernama ‘Tao’ di balik semua eksistensi. Mulai dari alam semesta sampai limbah pabrik, mulai dari planet Merkurius sampai planet Namek, mulai dari pohon akasia sampai pohon tomat, mulai dari kuda darat, kuda laut, sampai kuda terbang bercula satu.

Lebih tepatnya lagi menurut Lao Tzu,

“…it gives people life, yet claims no possession…
…it is the steward, yet exercises no authority…”

Pentingnya atmosfer agama juga menjadi salah satu pesan rahasia yang digambarkan oleh ‘Star Wars’ – lewat representasi ideologi terhebat di planet bumi, fasisme. Jenderal-jenderal The Empire tampil seperti seragam para komandan pasukan Bavaria di masa-masa kejayaan fasisme dan komunisme. Warna hitam dan merah yang identik pun juga dipakai oleh sejumlah perwira di barisan The Empire. Bahkan sebutan ‘stromtropper’ sendiri berasal dari panggilan sayang Adolf Hitler kepada pasukan pribadinya.

Obi-Wan sendiri menyarankan Luke agar lebih menaruh kepercayaan kepada The Force daripada teknologi. Sementara The Empire, seperti mitos para pelaku fasisme di masa lalu, lebih mengandalkan keyakinannya pada teknologi (Death Star), lalu berdiri tegak di belakang humanoid yang lebih menyerupai mesin daripada makhluk hidup (Darth Vader).

Ketergantungan terhadap teknologi pun lantas harus dibayar mahal oleh The Empire. Mereka harus berujung pada kehancuran dan anarki, sedangkan gaya hidup alami dan religius mampu mengantarkan Luke pada kemenangan.

[giphy.com] Boomsakalaka!!

Lantas kenapa ‘Star Wars’ mengubah laju industri perfilman di planet bumi?

Apalagi kalau bukan masalah visual?

Mengambil inspirasi dari ‘Metropolis’ dan ‘2001: A Space Odyssey’, ‘Star Wars’ boleh saja disebut sebagai pionir penggunaan efek-efek visual sebagai fondasi utama aliran sci-fi.

‘Star Wars’ juga mempertegas penggunaan warna sebagai kekuatan identitas setiap karakter pada narasi bergaya kepahlawanan. Ada lightsaber berwarna biru untuk Obi-Wan Kenobi, sementara warna merah untuk Darth Vader; Luke dan Leia berpakaian serba putih, sementara Darth Vader dan sejumlah pengikutnya berseragam hitam-hitam, sementara Han Solo memakai hitam-putih karena ia plin-plan, sedikit baik, sedikit jahat, begitu pula dengan para stromtropper yang sebenarnya cuma pasukan manut-manut perintah saja.

Legasi ‘Star Wars’ di tahun 1977 akhirnya menandai akhir dari budaya sinema yang biasanya lebih fokus pada substansi, nuansa, ironi, dan eksperimental. Popularitas film-film seperti ‘The Godfather’, ‘Taxi Driver’, atau ‘China Town’ pun mulai memudar.

Ah… poor Scorsese

Setelah kemunculan Darth Vader, pasar layar lebar lantas lebih diramaikan oleh aliran special effect, ledakan api dimana-mana, action, darah, dan kostum aneh. Berpindah jauh dari sinema bermaterikan konflik cerita yang kompleks dan kaya, menuju plot sederhana cenderung klise, yaitu “baik versus jahat”.

That’s it weirdos! Edisi spesial ‘May the 4th be with you’.

Live long and prosper!

Ah, salah.

Beam me up, Scotty!