Alien Pergi ke Record Store Day Bandung 2017

2
14
views

Dua bulan yang lalu kami singgah di planet Bumi, mencari rumah sementara, karena planet kami, planet Sigur, baru saja dihancurkan oleh para Cromulon. Semenjak itu kami, para Sigurian, senantiasa mencari tahu dan mempelajari teka-teki kehidupan umat manusia lewat sejumlah budaya populer, seperti novel, film, dan tentu saja musik, supaya kami dapat beradaptasi dengan keseharian para penduduk setempat. Berulang kali kami mendalami, menggali, mengulik sejumlah karya seni di planet bumi. ‘Nevermind‘, lalu ‘OK Computer‘, sampai The Joker dan Rick Sanhez, hingga Winston Smith, juga Jon Snow.

Hasilnya? Memancing rasa takut, mengubah hari menjadi biru, kami pun jadi sering diam terpaku.

Beruntung, salah seorang humanoid Bumi, Juprik Cobain, sedang baik hatinya mengajak kami agar ikut pergi ke sebuah perhelatan sederhana, untuk para penggemar dunia musik, khususnya pencinta rilisan fisik serta komunitas musisi indie di kota Bandung. Tempat tinggal Juprik Cobain.

“Record Store Day 2017,” sebut Juprik di hari sebelum acara, “Aku jamin kalian bisa segar lagi, mirip bayi yang baru lahir.”

Meski sepengetahuan kami, bayi manusia yang baru lahir itu selalu menangis – bukan tertawa segar, kami mengiyakan sajalah ajakan si humanoid pencandu Nirvana itu. Kami cukup penasaran dengan budaya musik yang ada di wilayahnya.

Maka pergilah kami bersama Juprik ke Jalan Kiputih No. 1, Bandung, lokasi yang biasa menjadi rumah bagi Keep Keep Musik, namun pada akhir pekan kemarin menjadi wadah istimewa bagi gelaran Record Store Day 2017, regional Bandung.

“Tahun-tahun kemarin biasanya di Omuniuum, mungkin biar suasana baru kali ya,” jelas Juprik sambil menunggu kami memarkir pesawat piring di tempat tersembunyi – Omuniuum adalah salah satu toko musik di wilayah Bandung. “Record Store Day bukan cuma di Bandung, tapi juga rame hampir di seluruh belahan dunia. Malahan sih, pionirnya justru emang dari luar Bandung, luar Indonesia, dari Amerika sana – biasalah ya. Oh iya! Tahun ini tahun perayaan yang ke-10.”

“Mirip Lebaran atau Natal, Record Store Day itu juga hari raya. Bukan untuk yang Muslim, yang Hindu, Kristen, Budha, Yahudi, Sikh, atau yang lainnya, tapi untuk semua manusia yang gila musik. Bukan cuma khusus kolektor vinyl atau kaset, asal mereka masih peduli industri musik, apalagi kalau komunitas indie, pasti pada ikutan ngumpul. Ikut merayakan,” sambung Juprik kembali di muka pintu masuk, bicaranya cepat tanpa henti.

[Foto oleh Vidi] Bahkan ada The Dandy Warhols.

Juprik benar. Masuk ke area perhelatan acara, kami lantas terkesima oleh atmosfer di dalam bangunan berwarna putih. Sejumlah lapak musik dari wilayah Bandung pun sudah tampak ramai digerayangi oleh manusia-manusia muda, remaja, juga tua, pria atau pula wanita, para penggila musik level pemula, atau juga level obsesif. Ada yang sibuk melihat satu per satu koleksi di dalam wadah kayu; ada juga yang asyik mengobrol dengan penjaga lapak – bertukar cerita dan pengalaman, lalu saling menawar harga; lalu ada yang sibuk beredaran dari satu lapak ke lapak lainnya – mungkin kebingungan karena koleksi yang dicari belum sempat ditemukan; dan tentu ada saja yang sekadar mengambil foto untuk kenang-kenangan.

Kami sendiri, tanpa pikir dua kali, segera memburu kepingan vinyl ‘Rumours’ dari Fleetwood Mac dan ‘The Four Trees’ dari Caspian, dua macam harmoni yang kami dengarkan saat mendarat di planet bumi untuk pertama kalinya. Sementara Juprik? Ia langsung pergi mencari kaset pita ‘Kisah Klasik Untuk Masa Depan’ dari Sheila On 7. Entah apa alasannya. Ia cuma mengaku sedang ingin mengingat romansa ketika masih remaja.

[Foto oleh Vidi] Bukan Fleetwood Mac. Tapi siapa yang tak suka The Smiths?

Sambil membolak-balik satu per satu kepingan vinyl di seluruh area Kiputih I, kami tanpa henti menghela nafas kagum pada manusia-manusia bumi yang datang ke acara Record Store Day. Setahu kami di planet bumi sudah tersedia layanan musik digital, kami jadi berpikir untuk apa mereka masih mau susah-susah menikmati musik lewat rilisan fisik lagi. Berbeda dengan kami di planet Sigur yang teknologi audionya memang masih sebatas putaran cakram padat saja.

“Lebih intim,” jawab Juprik kalau ditanya kenapa masih suka rilisan fisik .

Mungkin benar. Mungkin juga tidak.

Perihal kualitas suara, digital mungkin saja lebih baik, tapi perihal terdengar nyata? Rilisan fisik masih lebih unggul menurut teman kami dari planet bumi tersebut. “Sambil dengar musiknya, bisa lihat-lihat artwork albumnya. Desain sampul, baca-baca catatan kecil di dalamnya, lihat nama-nama yang punya jasa saat proses rekaman, baca dan coba ngerti lirik-liriknya. Ya, lama-kelamaan jadi lebih nempel sama hasil karyanya,” tambah Juprik, memperjelas maksud dari kata intim.

Lega. Untuk sesaat, kami sempat menduga kalau Juprik suka berhubungan seksual lewat lubang kaset pita dan kepingan vinyl.

[Foto oleh Vidi] Bukan cuma vinyl atau kaset pita.

Hampir dua jam lamanya kami berputar-putar, dari satu lapak ke lapak lainnya, mencari ‘Rumours’ dan ‘The Four Trees’, hanya jawaban, “Kosong, Aaa,” yang kami dapatkan.

Setelah bertukar cerita dengan salah seorang pengunjung, kami baru mengetahui kalau rilisan tersebut memang sudah langka dan susah didapatkan.

Kembali mengharu biru, kami lalu turun sebentar ke tanah rumput di bawah area lapak para toko musik. Di sana ada tenda putih berukuran kecil, berdiri tegak dan lengkap dengan sejumlah peralatan musik yang tampak sudah siap dimainkan. Sebelumnya memang ada penampilan akustik dari musisi bernama Sisir Tanah, hanya sayang beribu sayang kami tidak terlalu memperhatikannya. Entah kenapa, mungkin karena kami masih asik memburu ‘Rumours’ dan ‘The Four Trees’.

Anyway, karena hari sudah mulai larut, kami lalu mengajak Juprik untuk pulang. Alat penyamaran kami sebagai manusia akan habis fungsinya kalau petang sudah menjelang. Juprik justru menolak, malahan ia meyakinkan kami untuk menonton penampilan langsung musisi selanjutnya, yaitu Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS). “Band yang ini ya, ‘gak kalah keren sama Caspian,” ucap Juprik meyakinkan.

“Kalau lebih lama lagi, wujud alien kami nanti ketahuan,” keluh kami pada Juprik.

“Tenang, Yen. Kalau udah cinta musik, yang beda-beda mah jadi satu juga. Ras dan agama cuma jadi serpihan debu.”

Kami pun diam merinding basah setelah mendengar pernyataan Juprik.

Oleh sebab angin malam tiba-tiba berhembus.

[Foto oleh Vidi] Caspian? Bukan. The name is Under The Big Bright Yellow Sun, human!

Pukul 7 malam tepat, UTBBYS sudah siap dengan senjatanya. Anggotanya ada 5 orang, 3 orang pada gitar, 1 pada bass, 1 pada drum, tanpa vokalis. Kami segera menoleh Juprik dengan reaksi kaget dan senang, Juprik hanya membalas, “You’re welcome!”

Seperti Caspian, UTBBYS turut serta memainkan musik post-rock instrumental. Bahkan warna musiknya lebih dinamis daripada Erin dan kolega. Mereka seperti Explosions In The Sky yang bertemu dengan Caspian, lalu saling jatuh cinta, kemudian menikah di wilayah pegunungan Andes, dan dikaruniai seorang humani perempuan dengan senyum paling indah di seluruh galaksi.

Kami jatuh cinta pada pendengaran pertama.

Sepanjang periode kurang lebih satu jam, UTBBYS terus menerus memainkan harmoni indah di malam itu. Menghangatkan suasana gelap di tanah kota Bandung yang tinggi, membiaskan kami pada kenyataan kalau manusia-manusia lainnya sudah menyadari keberadaan kami, para alien dari planet Sigur.

Juprik benar lagi, kalau sudah cinta musik, kami semua cuma bergoyang mengikuti irama di muka telinga. Lupa ras, lupa perbedaan.

Maka, di tengah-tengah penampilan UTBBYS, kami lantas berseru pada Juprik, “Bantu kami cari kasetnya!” dan seakan-akan menimpali, si pembetot bass dari UTBBYS lalu mengucap, “…karena rilisan fisik adalah penyambung nyawa bagi setiap setiap musisi.”

Ah… bisa-bisa saja.

Kami pun seketika sadar tujuan utama Record Store Day.

Terima kasih RSD Bandung. Terima kasih Under The Big Bright Yellow Sun, semoga nyawamu panjang. Seni memang sudah seharusnya punya harga.