Liner Notes: Sempiternal oleh Bring Me The Horizon

0
561
views
[rythmcircus.co.uk]

Seperti ‘Nevermind’, seperti ‘OK Computer’, seperti ‘We Don’t Need to Whisper’, seperti ‘Kamar Gelap’ dari Efek Rumah Kaca, ‘Sempiternal’ kembali mengingatkan para pencinta musik kalau seni bukanlah senjata utama pemburu materi, melainkan alternatif terbaik menyampaikan isi kepala ataupun hati.

Di tahun 2012, Oliver Sykes kembali menjalani rehabilitasi untuk menghilangkan kecanduannya akan ketamine. Meninggalkan Bring Me The Horizon yang sedang dalam kondisi rapuh ketika bekerja mempersiapkan materi album yang keempat. Di panti rehabilitasi, Sykes berusaha keras agar dapat mengembalikan kuasa atas tubuhnya dari jeratan narkoba dan depresi berkepanjangan. Memulangkan dirinya pada waktu sebelum mengenal salah satu obat-obatan berbahaya tersebut.

Berkat dukungan moril tanpa henti oleh teman-teman satu band, keluarga, serta penggemar setianya, satu bulan kemudian, sang frontman terlahir lagi sebagai manusia sehat. Bebas dari rasa kecanduan dan godaan bunuh diri. Hubungannya dengan teman-teman satu band kembali terjalin baik, semangat bermusiknya pun kembali muncul, menjulang tinggi, sampai menghadirkan sejumlah ide penulisan lagu.

Sykes, Lee Malia (gitar), Matt Kean (bass), Matt Nicholls (drum), dan Jordan Fish – yang pada waktu itu masih merupakan session member, lantas sering berkumpul di Sheffield, menyegarkan lagi hubungan pertemanan di dalam band, mengumpulkan nada dan kata, lalu memantapkan kerangka awal salah satu karya terbaik dari industri metalcore.

Nay, salah satu yang terbaik dari industri musik.

Dibuka oleh kombinasi suara synth berat olahan Jordan Fish, ketukan bertenaga Matt Nicholls, serta vokal ‘bersih’ oleh Sykes dengan lirik serupa yin dan yang (“the higher I get, the lower I’ll sink”), ‘Sempiternal’ segera saja menghadirkan kesan bahwa Bring Me The Horizon telah terlahir kembali menjadi kelompok seniman yang lebih segar daripada album-album sebelumnya.

Pengaruh musik ambient, post-rock, dance, dan tipikal movie-scoring mulai terasa kental pada setiap track di ‘Sempiternal’. Lewat album tersebut, meski masih sedikit, lima pemuda kota Sheffield menampilkan keberanian mereka bereksperimen di luar koridor metalcore. Melanjutkan ujicoba sekilas yang sempat dilakukan pada album sebelumnya.

Dibantu oleh Terry Date (produser), mereka mencoba lagi sejumlah warna baru layaknya seniman progresif, lantas berhasil, lalu mendapat apresiasi positif dari para penggemar, penikmat, dan kritikus musik.

Oleh majalah Alternative Press dari Amerika Serikat, ‘Sempiternal’ diberi penghargaan sebagai satu dari ‘10 Album Esensial’ di tahun 2013 dan album terbaik di tahun 2014. Oleh majalah Kerrang! dari UK, ‘Sempiternal’ merupakan peringkat satu dari 25 album rock terbaik di tahun 2013. Lalu mendapat akumulasi nilai 81 dari total 100 via Metacritic.

Prestasi memuaskan untuk album tanpa satu pun lagu berirama radio-friendly di dalamnya.

Namun terlepas dari eksperimen berujung positif, banyak pendengar yang menilai bila kejujuran berkarya merupakan salah satu nilai utama ‘Sempiternal’.

Sebelum ‘Sempiternal’ mulai dikerjakan, kondisi Oliver Sykes – penulis utama lirik, yang penuh masalah tentu saja mempengaruhi sebagian besar ide penulisan lagu pada setiap track.

Lewat sejumlah interview bersama Kerrang! dan Alternative Press, Sykes sempat menyatakan bila ‘Can You Feel My Heart’ merupakan cerita bagaimana langkah awalnya menghadapi depresi dan kecanduan narkoba. “…is all about admittance, admitting you have a problem, and admitting something’s wrong. That’s the first step of the whole album,” sebutnya berulang kali di depan media.

Kemudian pada single ‘The House of Wolves’, Sykes kembali mencurahkan pengalaman buruknya di panti rehabilitasi. Kali ini perihal sudut pandangnya yang di luar batas kultur biasa umat manusia. ‘The House of Wolves’ menggambarkan jelas bagaimana keraguan sang frontman pada agama dan Tuhan (“What you call faith, I call a sorry excuse. Cloak and daggers murder the truth.”)

Sykes menyebutkan bila pada saat menjalani rehabilitasi, dirinya selalu disarankan oleh para pengasuh agar kembali percaya pada agama serta Tuhan sebagai motivasi utama untuk sembuh. Sedangkan ia selalu percaya kalau alasan terbaiknya untuk segera sehat adalah keluarga, teman-teman, dan hobinya bermusik. Sesuatu yang menurutnya adalah nyata dan benar adanya.

Menggunakan ‘Sempiternal’, Sykes dan kawan-kawannya kembali meneriakkan isi kepala mereka yang sering menyimpang dari sebutan manusia normal, juga sulit diterima bila hanya disampaikan lewat obrolan saja. Mereka memuntahkan keluh perihal identitas pencandu narkoba lewat ‘Sleepwalking’ dan ‘Crooked Young’, skeptisisme pada Tuhan serta agama lewat ‘The House of Wolves’, ‘Empire (Let Them Sing)’, ‘Go To Hell, for Heaven’s Sake’ dan ‘Shadow Moses’, rasa muak juga marah pada hipokrit lewat ‘Antivist’, lalu membagi cerita bagaimana gelap dan bahayanya jerat depresi lewat ‘Hospital for Souls’.

‘Sempiternal’ pun jadi terdengar manis, berani, dan seni yang jujur. Kombinasi Matt Nicholls dan Matt Kean tak terdengar pura-pura beringas, melodi elektronik oleh Jordan Fish tak terdengar pura-pura melankolis, alunan distorsi Lee Malia tak terdengar pura-pura keras, dan yang utama, tak ada kesan pura-pura sangar dari teriakan Sykes di muka microphone. Justru terdengar seperti pemuda yang menemukan alternatif baru untuk darah pencandunya.

Ibarat pernyataan Mark Renton (“You’re an addict, so be addictive. Just be addictive to something else. Choose the one you love. Choose your future. Choose life.”), Sykes memilih untuk tetap hidup. Ia abaikan jerat depresi serta rayuan bunuh diri, lalu meneruskan masa depan bersama cinta dan obsesinya, tetap setia menjalani hari sebagai seorang pencandu… pencandu dunia musik.

Selanjutnya?

Bring Me The Horizon benar-benar menghidupkan makna ‘Sempiternal’ ke dalam catatan sejarah dunia musik.