Game of Theories II: Jaime Lannister, Pangeran yang Dijanjikan

2
Jaime Lannister Game of Thrones
[HBO]

Saat pertama kali tiba di planet Bumi, kami pernah mencoba menggali isi kepala George R.R. Martin, lalu menyebut bila Jon Snow dan Daenerys Targaryen bukanlah akhir dari cerita panjang nan kompleks Game of Thrones.

Kami memang sempat menyimpulkan kalau Samwell Tarly yang akan jadi penguasa Seven Kingdoms di ujung narasi, tapi semoga saja kalian sadar kalau kesimpulan itu adalah dugaan akurat. Dugaan akibat denyut-denyut frustasi setelah masuk terlalu dalam menjelajah pola pikir GRRM.

Baca juga Game of Theories: Bagaimana Game of Thrones akan Berakhir?

Hanya saja sayang beribu sayang, kami sekarang punya kuda pacu yang berbeda.

Ya, seperti pada judul artikel, kami bertaruh sepuluh ribu rupiah untuk Jaime F***ing Lannister.

Kenapa?

RAMALAN PANGERAN YANG DIJANJIKAN DAN AZOR AHAI

Pada sejumlah interview, GRRM pernah menyebutkan kalau konteks ramalan adalah sesuatu yang rumit dan kompleks. Seperti kitab suci agama, terkadang pernyataan dari satu ramalan bisa saja pada mulanya disampaikan sebagai metafora, perumpamaan, tidak literal, butuh peleburan dari sejumlah telaah, sementara tujuannya juga kadang kabur, entah menjadi prediksi atau justru sebagai pedoman.

Untuk mengakomodasi pendapat GRRM, kami mencoba untuk melihat lagi sejumlah ucapan tentang Azor Ahai dan Pangeran Yang Dijanjikan, dengan asumsi bila kedua karakter pada ramalan tersebut adalah sama.

Menurut Melisandre, Pangeran Yang Dijanjikan akan lahir, “[…] setelah musim panas yang panjang, ketika bintang-bintang berdarah dan nafas dingin kegelapan jatuh turun dengan lebat ke dunia,” dan kemudian terlahir kembali, “[…] di antara asap dan garam. […] membangunkan para naga dari membatu. Dia akan membawa pedang terbakar, bernama Lightbringer.”

Ucapan dari Melisandre tentang Pangeran Yang Dijanjikan pun seragam dengan apa yang dikatakan oleh Benerro (Kinvara jika pada serial televisi), pendeta R’hllor dari Red Temple di Volantis, tentang Azor Ahai. Dia turut menyebutkan bila Azor Ahai lahir di antara asap dan garam (kemungkinan adalah metafora untuk api dan laut), lalu dikirim untuk menciptakan dunia yang baru, hingga akhirnya menyudahi kegelapan serta membawa musim panas yang baru. Benerro bahkan menegaskan bila, “Kematian sendiri akan berlutut, dan mereka semua yang gugur demi perjuangan Azor Ahai akan kembali lahir.”

Jadi, bagaimana bila nanti, pada musim ke-7, kita melihat Jaime Lannister dikirim oleh Cersei Lannister, agar pergi bernegosiasi dengan Daenerys Targaryen di Dragonstone (“Kematian sendiri akan berlutut”), namun pada nantinya ia justru benar-benar pergi meninggalkan pihak Cersei Lannister, lalu bergabung dengan pihak Daenerys Targaryen (menyudahi kegelapan, membawa musim panas yang baru).

[HBO] Jaime Skywalker.

Sekarang lupakan metafora sebentar, mari coba lihat Pangeran Yang Dijanjikan dan Azor Ahai dengan sedikit menyentuh sisi literal. Bagaimana bila darah dari dinasti Targaryen memang benar-benar penting untuk akhir dari pertikaian panjang Game of Thrones?

Maka jawaban dan pertanyaan selanjutnya: Bagaimana bila Jaime Lannister sebenarnya adalah putra dari Joanna Lannister dan Aerys Targaryen?

Mengacu pada seri-seri literasi Game of Thrones, Joanna Lannister memang pernah disebut-sebut memiliki hubungan asmara geli-geli basah dengan The Mad King Aerys II Targaryen, sebelum menikah dengan Tywin Lannister. Hubungan yang isunya tetap berlanjut untuk beberapa waktu setelah Joanna dan Tywin menjadi suami-istri.

Isu-isu lantas berkembang semakin liar, ada yang menyebutkan bila Joanna kemudian melahirkan seorang anak dari kisah asmaranya dengan Aerys II Targaryen. Bukan murni keturunan dari Tywin Lannister.

Sepanjang seri berjalan, beberapa dugaan cenderung berasumsi jika Tyrion adalah sosok anak dari hubungan rahasia Joanna dan Aerys – oleh sebab penampilan fisiknya. Namun jika menyadari karakter si kurcaci yang cerdas, ahli strategi, suka membaca, sedikit bijak, pintar bernegosiasi, cinta mati pada wanitanya, Tyrion justru lebih mencerminkan Tywin Lannister daripada The Mad King.

THE. MAD. KING.

Jaime Lannister terlahir kembar bersama saudarinya, Cersei. Mereka berdua memiliki  romantisme cinta dan nafsu seksual di antara saudara kandung, kebiasaan yang cukup aneh bagi kaum biasa, namun tidak bagi dinasti Targaryen. Lalu yang terpenting adalah karakter ganas, gila, straight-up-insanity dari seorang Cersei. Satu-satunya putri dari klan Lannister itu malah seakan-akan melahirkan kembali sosok The Mad King yang berdarah Targaryen. Dia bahkan sempat menjalankan salah satu rencana tertunda The Mad King – menggunakan wildfire untuk membunuh sejumlah penduduk di King’s Landing.

Sementara Jaime sendiri? Jangan lupakan awal mula konflik Game Of Thrones, bagaimana ia mendorong Bran Stark dari puncak menara demi menjaga cinta terlarangnya dengan Cersei agar tetap rahasia.

Jika sedang bersama-sama, Cersei dan Jaime lebih mewujudkan The Mad King daripada Tywin Lannister.

Lantas, bagaimana relasi kondisi Cersei-Jaime Lannister dengan ramalan Melisandre dan Benerro (Kinvara)?

Baik Pangeran Yang Dijanjikan atau Azor Ahai sama-sama disebutkan membawa pedang yang bernama Lightbringer, dimana dalam penciptaanya, mereka sama-sama mengikuti langkah yang begitu panjang dan memberatkan,

“Untuk melawan kegelapan, Azor Ahai perlu menempa sebilah pedang pahlawan. Dia bekerja selama 30 hari, siang dan malam, sampai akhirnya selesai. Meski begitu, ketika pergi untuk mengeraskan pedang tersebut dengan air, pedang tersebut terbelah. Dia tidak mudah menyerah, maka ia mulai kembali. Untuk kedua kalinya, ia membutuhkan waktu 50 hari, siang dan malam, untuk menciptakan pedangnya, lebih baik daripada sebelumnya. Untuk mematenkannya kali ini, dia menangkap seekor singa, dan menghunuskan pedangnya menuju jantung sang singa, tapi sekali lagi besi-besi pecah berantakan. Untuk yang ketiga kalinya, dengan berat hati, sebab ia mengetahui apa yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan pedangnya, dia bekerja selama seratus hari, siang dan malam sampai pedangnya selesai. Kali ini, dia memanggil istrinya, Nissa Nissa, dan memintanya untuk menelanjangkan dadanya. Dia hunuskan pedangnya menuju dada sang istri, jiwanya menyatu dengan baja pedang, menciptakan Lightbringer, sementara tangis derita dan kebahagiaan menyisakan retak di permukaan bulan.”

Sekarang pertimbangkan bila ramalan dari kedua orang Pendeta Dewa Api tersebut sebagai petunjuk, sebagai pedoman. Bukan sebagai prediksi.

Jika Cersei dan Jaime memang terlahir dengan sebagian darah dari Targaryen, maka bukan hal yang tabu untuk menganggap mereka berdua adalah suami-istri. Apalagi jika keduanya dibesarkan di rumah keluarga para pengendara Naga. Dengan premis seperti itu, Lightbringer tentu sudah hampir nyata di depan mata. Lebih tepatnya, di depan Jaime Lannister. Figur si pangeran Lannister yang sedang terombang-ambing di antara batas baik dan buruk hanya perlu mengayunkan pedangnya ke dada wanita yang ia cintai.

Dan jangan lupakan juga ramalan lainnya tentang kematian Cersei Lannister, bahwa dirinya akan tewas di tangan seorang valonqar, atau adik laki-laki dalam bahasa Valyrian – Jaime lebih muda beberapa menit daripada Cersei Lannister.

[Bustle]

GRRM ingin sekali menggunakan Game of Thrones sebagai senjatanya mengaburkan batas kabur di antara baik dan buruk, di antara benar dan salah, di antara pahlawan dan penjahat. Berpindahnya si penyebab rantai masalah di tanah Westeros menuju sisi penyelamat tentu bisa memaniskan nafsu GRRM.

Jaime Lannister The Kingslayer, terlahir kembali sebagai Jaime Lannister The Prince That Was Promised.

Satu-satunya pertanyaan tersisa, maukah Jaime pergi meninggalkan sisi gelapnya yang selalu muncul akibat cinta buta terhadap saudari kembarnya, lantas menyudahi hidup The Mad Queen Cersei Lannister?