Liner Notes: Ágætis Byrjun oleh Sigur Rós

4
[flickr.com] Foto oleh 'snowbear007'.

“Kami bukan band, kami adalah musik. Kami akan mengubah musik selamanya, dan cara orang berpikir tentang musik,” ucap Sigur Rós di tahun 1999.

Pada tahun yang sama Sigur Rós baru saja merilis album studio yang kedua, ‘Ágætis Byrjun’. Album yang menempuh jalan cukup panjang untuk menemukan arahnya dari wilayah lokal Islandia menuju kategori platinum dan predikat salah satu yang terbaik di planet Bumi.

Baca juga: Liner Notes – ‘OK Computer’ oleh Radiohead

[flickr.com / Foto oleh Rosario Lopez] Vokalis dan gitaris Sigur Rós, Jónsi.

‘Ágætis Byrjun’ mulanya dirilis pada tanggal 12 Juni 1999 di Islandia, lalu disusul dengan perilisan di wilayah United Kingdom pada tahun berikutnya.

Mengikuti respon positif yang begitu masif dari para pendengar, serta dukungan melimpah dari musisi-musisi progresif seperti Radiohead, Björk, dan Mogwai, album kemudian resmi dipersembahkan kepada penduduk Amerika Serikat juga, dan internasional pada tahun 2001.

Selanjutnya? Cerita manis mulai ditulis. ‘Ágætis Byrjun’ menopang kuat fondasi Sigur Rós untuk melebur jadi satu dengan definisi musik dan keindahan.

Ketika Jónsi, Georg Hólm, dan Ágúst Ævar Gunnarson pertama kali muncul di planet Bumi dengan album debut, ‘Von’, belum banyak pendengar dan penggila musik yang menaruh perhatiannya pada mereka – tak terkecuali sesama penduduk Islandia.

‘Ágætis Byrjun’ pun menemukan sejumlah bahu terangkat pada minggu-minggu pembuka perilisan.

Namun pada akhirnya seni yang elok memang akan selalu keras gaungnya.

Sebelum memulai periode album kedua, Sigur Rós terlebih dahulu mengajak Kjartan “Kjarri” Sveinsson sebagai anggota keempat, dan kehadirannya bukan peran pelengkap saja. Sang multi-instrumentalis memberi kesempatan lebih bagi Jónsi, Hólm, dan Ævar agar mematangkan eksperimen mereka di wilayah post-rock. Kjarri menciptakan tulang punggung album yang lebih berwarna.

‘Ágætis Byrjun’ lantas bersenjatakan kombinasi dream-pop 1980-an dan atmosfer post-rock yang terdengar lebih menyerupai bebunyian dari luar planet Bumi daripada sekadar suara-suara asing dari negeri antah-berantah, serta lirik-lirik ganjil berbahasa Hopelandic – bahasa yang dikreasikan oleh Sigur Rós sendiri dari akar bahasa nasional Islandia.

Kombinasi unik, pun menawan.

Album dimulai oleh fantasi dari dasar laut – sejumlah sinyal sonar menggema berulang-ulang dari tempat tergelap di planet Bumi. Terus menekan, meski kasat mata, lalu secara perlahan diikuti oleh rintihan organ katedral, suara wire-brush-stick yang saling berlarian di antara drum dan simbal, serta bising menyejukkan dari gesekan busur biola di muka gitar, sesaat sebelum Jónsi mempersembahkan vokal terindah di seluruh galaksi.

“Selamat datang di surga!” teriaknya dari balik harmoni.

Pesona album lalu berpindah dari ‘Svefn-G-Englar’ menuju alunan biola dan lincah jari-jari Kjarri di atas tuts piano memulai ‘Stràlfur’, sampai pada pertengahan track ketika Jónsi kembali membelai telinga para pendengar dengan lembut suaranya.

Bagai Icarus dan sayap-sayap rapuh, ‘Stràlfur’ terus membawa para pencandu musik semakin dekat dengan matahari. Atau mungkin semakin dekat dengan Bikini Bottom.

Sementara bicara track populer, ‘Olsen Olsen’ boleh disebut andalan. Track nomor delapan yang diawali oleh ketukan drum sederhana, dan permainan bass ikonik dari Ævar dan Hólm. ‘Olsen Olsen’ adalah ladang edelweis di Kurukshetra. Sentuhan flute, biola, terompet, dan paduan suara begitu monumental hingga di ujung lagu.

“Selamat datang di Shire!”

“Kami bukan band, kami adalah musik. Kami akan mengubah musik selamanya, dan cara orang berpikir tentang musik.”

Begitulah klaim Sigur Rós ketika melahirkan ‘Ágætis Byrjun’ ke planet Bumi. Alien bercahaya biru, masih berbentuk janin, dengan sayap-sayap kecil di punggungnya. Figur yang mampu mengubah sudut pandang para pendengarnya tentang musik.

Musik bukan cuma lampias emosi, tapi juga instrumen fantasi tanpa batas.