Liner Notes: Chester Charles Bennington

3
13
views
[Ilustrasi oleh Satria Bayu]

Pada awal bulan April di tahun 1994, Kurt Cobain mencuri perhatian dunia dengan berita kematiannya di usia muda. Industri musik pun meradang, kehilangan salah satu figur musisi yang punya pengaruh besar, baik secara musikal atau attitude, baik di skena musik grunge atau juga pasar musik mainstrem. Nirvana sendiri lantas menjadi legasi ikonik, meski hanya bermodalkan tiga buah album.

“…they were singular, and loud, and melodic, and deeply original. And that voice. That voice. Kurt, we miss you. I miss you,” sebut Michael Stipe dari R.E.M. ketika melantik Nirvana ke barisan Rock and Roll Hall of Fame di tahun 2014.

Kurt Cobain, “the voice of a generation”, memang punya warna vokal yang unik. Berteriak sampai ke ujung terakhir nafasnya, keras, bertenaga, jujur, dan penuh melodi sederhana yang indah. Tepat untuk musik-musik dengan tema alienasi dan amarah yang sering ia tuliskan. Wajar saja kalau kemudian The Famous Cobain menjadi inspirasi bagi para manusia pencinta musik di periode awal 1990-an. Chester Charles Bennington adalah satunya.

–Baca juga: Liner Notes – Meteora oleh Linkin Park

Menuju akhir dari tahun 1991, Red Hot Chili Peppers sedang menjalani tur dari album ‘Blood Sugar Sex Magik’, dan Nirvana yang baru saja merilis album kedua mereka, ‘Nevermind’, di bulan September 1991, merupakan salah satu dari band pendukung tur, bersama Pearl Jam yang juga baru saja merilis album ‘Ten’. Dan di antara barisan penonton, berdirilah Chester muda yang kelak akan menjadi wajah dari Linkin Park.

Bukan berita baru jika Chester sering menempatkan Nirvana sebagai salah satu kiblatnya di saat bermain musik. Perkenalannya dengan ‘Nevermind’ di akhir tahun 1991 memang punya tanggung jawab cukup besar untuk membentuk karakternya di industri musik. Teriakan yang bertenaga, melodi pop yang menarik, dan lirik yang jujur.

Tentunya tanpa melupakan peran Depeche Mode dan Stone Temple Pilots juga – dua nama yang selalu menjadi pahlawan musik bagi Chester sejak kecil.

Seperti Cobain, Krist Novoselic, dan Dave Grohl, sebelum menuai sukses dan popularitas bersama Linkin Park, Chester pun berangkat dari latar belakang yang amburadul. Kedua orang tuanya bercerai ketika ia masih berusia 11 tahun, lalu tak lama setelahnya ia mulai terjebak oleh pengaruh buruk obat-obatan terlarang, seperti alkohol, opium, kokain, dan LSD.

Belum lagi kalau mengingat ia pernah mengalami pelecehan seksual oleh seorang pria dewasa sejak masih berusia 7 tahun sampai usia 13 tahun.

He was a troubled kid, and he drew pictures, wrote poetry and songs to comfort himself.

Musik lantas menjadi pilihan hidup Chester di usia 17 tahun. Ia memulai karir profesionalnya bersama sebuah band bernama Sean Dowdell and His Friends, dengan merilis kaset berisi tiga buah track di tahun 1993. Mulai melihat cerah di industri musik, Chester dan Sean Dowdell lantas mematangkan kerjasama mereka – membentuk band bernama Grey Daze, yang beraliran post-grunge, namun berbasis di Phoenix.

Sayang, meski sudah menghasilkan 3 buah album, popularitas Grey Daze masih setia berada di level medioker. Chester akhirnya memilih berpisah dengan Grey Daze di tahun 1998 dan segera memulai perjuangannya mencari band terbaru.

Pada tahun 1999, Chester mulai frustasi akan kebuntuan karirnya di dunia musik dan sudah bersiap diri untuk meninggalkan mimpinya menjadi anggota band professional. Tapi seorang penyelamat lantas tiba – Jeff Blue, seorang produser dari Los Angeles dan perwakilan Zomba Music memberinya kesempatan audisi untuk menjadi vokalis Linkin Park.

Sejarah pun mulai ditulis.

Satu tahun berselang, Chester bersama Mike Shinoda, Brad Delson, Joe Hahn, Rob Bourdon, dan Dave “Phoenix” Farrell, tanpa basa-basi langsung mendobrak pintu pasar industri musik dengan album debut ‘Hybrid Theory’. Penolakan dan penolakan yang terus diterima oleh band terhadap album demo mereka sebelumnya pun berganti setimpal.

‘Papercut’, ‘Crawling’, ‘In The End’, berhasi menyenggol dominasi nama-nama dari arus utama di tangga lagu internasional, seperti Britney Spears atau Backstreet Boys.

Sukses mencuri perhatian lewat album debut, Chester dan Linkin Park kembali memperkuat personalitas di industri musik dengan ‘Meteora’ di tahun 2003. ‘Don’t Stay’, ‘Somewhere I Belong’, ‘Faint’, ‘Breaking The Habit’, dan ‘Numb’ menjadi senjata andalan, sementara sebutan “calon legenda” segera menjadi pujian.

Entah berlebihan atau tidak di tahun 2003, tapi gelar “calon legenda” ternyata berlaku benar di tahun-tahun selanjutnya.

Ketika nama-nama dari aliran nu-metal lainnya mulai menemukan tembok besar dalam berkarya, jarang menghasilkan karya terbaru, dan susah beradaptasi dengan gempuran aliran musik arus utama, Chester dan Linkin Park terus melaju tanpa henti menantang pasar musik di planet bumi. Mereka terus menjaga konsistensi – melahirkan ‘Minutes to Midnight’ di tahun 2007, ‘A Thousand Suns’ di tahun 2010, ‘Living Things’ di tahun 2012, ‘The Hunting Party’ di tahun 2014, dan terbaru, ‘One More Light’ di bulan Mei kemarin.

Menariknya, bukan sekadar merilis album saja, kritik positif juga terus dipanen oleh Chester dan Linkin Park. Bahkan untuk album ‘One More Light’ sekali pun.

Dan nama seorang Chester Bennington adalah salah satu faktor utama datangnya kritik-kritik positif tersebut.

Berpacu dengan segudang catatan buruk sebagai latar belakangnya, Chester terus berteriak memberi suara terbaiknya sampai titik terhabis, menuangkan pengalamannya pada lirik-lirik yang jujur, bukan sekadar berpura-pura marah, bukan juga berlagak keras. ‘In The End’, ‘Somewhere I Belong’, ‘Numb’, ‘Shadow of The Day’, ‘Waiting for The End’, ‘Final Masquerade’, ‘Heavy’, adalah catatan harian sang vokalis sejak mampu berbicara melalui musik.

“His music is his soul,” begitulah pujian dari beberapa kritikus musik.

Entah itu ketika baru memulai periode Linkin Park dengan ‘Hybrid Theory’, atau menutup karir dengan ‘One More Light’, sosok Chester Charles Bennington lagi-lagi mengingatkan para pencinta dunia musik kalau bebunyian terbaik memang selalu datang dari ekspresi yang jujur.

Bagi seorang Chester adalah tentang alienasi dan amarahnya.

Sekarang, para humanoid planet Bumi kembali harus kehilangan figur “the voice of a generation”. Suara ikonik yang mengisi hari-hari humani muda di periode 2000-an. Teriakan keras yang membantu mereka bebas berekspresi ketika bertemu kesal atau pun gusar.

“And that voice. That voice. Chester, we miss you.”