Liner Notes: Dolores O’Riordan Wajah The Cranberries

2
[Flickr] Foto oleh Eva Renaldi

Dolores O’Riordan bukanlah vokalis yang merengek perhatian kesana-kemari untuk mengangkat popularitas pribadi atau bandnya, The Cranberries. Perhatian justru datang untuknya tanpa diminta.

Pertama, dia dikelilingi oleh personel-personel band yang memang lebih senang tenggelam di barisan belakang layaknya Colin Greenwood dari Radiohead. Kedua, posisi sebagai penyanyi utama tentu memaksa lampu sorot sering mengarah kepadanya.

Tapi lebih dari sekadar penempatan posisi, entah itu ketika dia berbisik-bisik atau berteriak kencang, O’Riordan – yang ditemukan meninggal secara tiba-tiba pada awal pekan ini – adalah karakter utama yang membentuk fondasi The Cranberries pada awal periode 1990-an. Nyala suara sang front-woman merupakan bakat alami, dan berkat dirinya juga berkah tersebut menjadi nilai elok yang ikonik.

O’Riordan memilih untuk menggunakan aksen Irlandianya secara utuh di setiap panggung. Keputusan tepat bagi rupa lagu-lagu The Cranberies agar terdengar tangguh, walau sebenarnya sedang berbicara melankolis, dan terdengar lantang menyentuh hati sebagai petunjuk eksotis kalau O’Riodan juga salah satu jiwa yang rapuh.

Baca juga: Alien Mengenal Indonesia – Under The Big Bright Yellow Sun

Kompleksitas karakter vokal O’Riordan terdengar jelas pada hits-hits klasik The Cranberries, seperti ‘Zombie’, ‘Dreamer’, dan ‘Linger’ – ketiganya berhasil merajai berbagai macam tangga lagu pada tahun 1994.

Bahkan pada akhir periode 1990-an pun The Cranberries masih senantiasa menghadirkan track-track berkelas yang popularitasnya terus berkeliaran di kedua sisi samudera Atalantis. Meski sayangnya harus juga diiringi dengan catatan bahwa kehadiran mereka perlahan mulai senyap.

Menjelang fajar millenium 2000, setelah memanen penghargaan platinum pada beberapa album, khalayak arus utama tidak lagi terlalu memperhatikan karya-karya terbaru dari The Cranberries. Mereka seakan menguap di balik derasnya band-band rock-alternatif dari generasi terbaru.

Akhirnya, setelah merilis album ‘Wake Up and Smell the Coffee’ di tahun 2001, The Cranberries memutuskan hiatus.

The Cranberries boleh saja tidak aktif selama periode 2000-an, tapi menariknya mereka tidak pernah benar-benar absen dari lalu-lalang industri musik. Mereka cukup beruntung hadir di awal periode 90-an, ketika industri musik menemukan cara untuk memanfaatkan semua aliran pendapatan yang mungkin terjadi. Panggung konser, soundtrack film, televisi, radio, kaset pita, CD, kaos, dan merchandise-merchandise lainnya.

Menyusul kesuksesan besar soundtrack ‘The Bodyguard’ pada tahun 1992, sejumlah label dan studio kemudian ramai-ramai menduplikasi fenomena tersebut dalam skala besar dan kecil, menyasar demografik berbeda juga dengan soundtrack individual.

The Cranberries muncul pada begitu banyak album soundtrack orisinil – hits mereka didaur ulang pada ‘Boys on the Side’ dan ‘Ready to Wear (Prêt-á-Porter)’, lalu ‘Empire Records’ diberi izin menggunakan track ‘Dreams’ dan ‘Liar’. Karya-karya mereka hadir begitu rutin di latar film dan acara-acara televisi.

‘Dreams’ berputar untuk Meg Ryan sebagaimana ia bercerita tentang romansa online, sebagaimana Tom Cruise berbagi beer dengan Ving Rhames di ‘Mission: Impossible’, sebagaimana muda-mudi ‘Beverly Hills’ mengingat-ingat amarah mereka.

‘Linger’ memainkan peran penting pada momen kilas balik Adam Sandler pada ‘It’s Wonderful Life’, kemudian muncul kembali pada salah satu episode ‘Inside Amy Schumer’ dan ‘The Bachelorette’.

Dan fakta bila ‘Zombie’ – sebuah lagu kritikan yang ditulis untuk momen duka aksi bom di Warrington, Inggris – digunakan oleh Ed Helms untuk mengganggu rekan-rekan kerjanya pada serial ‘The Office’, menunjukkan nyata betapa lekatnya ‘Zombie’ dengan budaya pop. Si produser tahu betul, hampir semua umat manusia di planet Bumi pernah mengenal vokal O’Riordan.

Sebagian besar musik-musik The Cranberries menguap senyap menuju langit, namun lagu-lagu mereka selalu berhasil mempertahankannya. Satu penyebab utama tentu gairah O’Riordan bernyanyi, baik dari dalam studio atau ketika tampil langsung di atas panggung konser. Rekan-rekan satu bandnya memang terampil menyajikan musik yang gesit dan lincah ibarat permainan gitar Johnny Marr, namun O’Riordan adalah sosok yang menegaskan bahwa lagu-lagu The Cranberries adalah spesial.

O’Riordan meluncur manis di antara kelap-kelip berkilau ‘Linger’, memberi fantasi yang lembut dan menggoda. Dia memperkuat dirinya ketika menyanyikan ‘Zombie’, emosinya memuncak tepat ketika menyebut judul track, menyentuh batas seimbang amarah dan putus harapan. Lalu sebaliknya pada ‘Dreams’, ia berhasil menerbangkan angan dan harapan membumbung tinggi ke angkasa. Ketika O’Riordan bernyanyi, setiap mimpi terasa semakin dekat dengan nyata.

Tapi sekali lagi, sungguh luar biasa bagaimana ketiga track ‘Dreams’, ‘Linger’, dan ‘Zombie’, yang akan selalu diingat oleh sebagian besar penduduk planet bumi, berhasil dengan sempurna mengabadikan bakat indah Dolores O’Riordan sebagai penyanyi serta penulis lagu dengan hati yang tangguh.

Untuk itu, The Cranberries akan senantiasa dikenang, meski sang front-woman kini telah tiada.