Liner Notes: Favourite Worst Nightmare oleh Arctic Monkeys

0
10
views

Kalau kata Mark Beaumont, album yang diantisipasi tinggi di komunitas musik indis sejak ‘Second Coming’ dari The Stone Roses.

Maklum, setelah ‘Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not’ berhasil menorehkan tinta super-duper-ultimate-emas sebagai debut di catatan industri musik rock alternatif, Arctic Monkeys dituntut menunjukkan kalau popularitas mereka bukan sekadar keberuntungan belaka.

Maka di tahun 2007, ‘Favourite Worst Nightmare’ menjadi jawaban tepat dari kuartet asal Sheffield tersebut. Album yang punya karakter lebih ambisius, tebal, padat, keras, dan cepat, serta lirik-lirik yang semakin tajam dan matang dalam menyampaikan satire.

Masih dipengaruhi oleh sejumlah musisi senior pada masa itu, seperti The Smiths, The Strokes, Josh Homme, album kedua Arctic Monkeys langsung saja menghentak telinga dan menarik perhatian para pendengar melalui ‘Brianstorm’. Satu lagu dengan intro pembuka serupa guruh angin tornado – suara Matt Helders menabuh drum seakan-akan menggunakan 12 tangan, diiringi harmoni bass menyentak layaknya karya-karya personal Josh Homme, lalu dilanjutkan alunan distorsi surfing dari Alex Turner dan Jamie Cook. Sementara liriknya sendiri – menggunakan seorang karakter yang pernah mereka temui saat tampil di Jepang, langsung menyerang fenomena ‘belagak keren dan kenal dekat dengan semua artis’ di komunitas musik.

“See you later, innovator!” pun lantas jadi frasa ikonik dari Arctic Monkeys

Sehabis ‘Brianstrom’, Arctic Monkeys kembali melanjutkan atmosfer ‘Fake Tales Of The San Fransisco’ di album sebelumnya, namun aromanya tentu lebih keras dan liriknya pun masih tetap menyampaikan sindiran tajam – kali ini yang menjadi sasaran adalah budaya selebriti. Dimana Turner mengambil salah satu slang di lingkungannya, teddy picker, sebagai analogi keluhannya melihat publik seringkali mengaburkan batas di antara pekerja seni dan selebriti-selebriti tanpa karya seni.

Pada track ke-3, ‘Favourite Worst Nightmare’ masih tetap menjaga tempo tingginya. Meski lebih didominasi oleh alunan bass daripada kerasnya distorsi gitar, ‘D Is For Dangerous’ justru sering dianggap sebagai ciri utama karakter keras dan kasar album kedua Arctic Monkeys itu. Apalagi jika mengingat fakta bahwa sebutan ‘Favourite Worst Nightmare’ dikutip dari barisan lirik ‘D Is For Dangerous.’

Menyusul pada lagu selanjutnya adalah ‘Balaclava’. Lagu yang menjadi kesempatan bagi Arctic Monkeys lagi-lagi menonjolkan warna musik yang cepat nan kompak, biarpun sebenarnya Turner membicarakan tema yang sedikit menyentuh masalah klise di usia remaja.

Di ujung ‘Balaclava’, track ‘Fluorescent Adolescent’ mulai menurunkan sedikit tempo album. Dibantu oleh Johanna Bennett, pada track ini Turner lebih menyampaikan rasa takutnya menghadapi dunia dewasa. Ia pun menulis pandangannya melihat kehidupan setelah remaja yang selalu tampak jauh lebih membosankan daripada liarnya periode muda. Tema yang begitu relevan, maka bonusnya adalah menjadi hits terpopuler dari ‘Favourite Worst Nightmare’.

Menyudahi periode cepat, keras, dan tajam, Arctic Monkeys menurunkan total ritme album kedua pada ‘Only Ones Who Know’. Dimana mereka mencoba pertama kali memainkan model lagu ballad, dan hasilnya? Romansa pun menyapa, tepat diputar sebagai latar ketika para pendengar sedang berdansa di hari pernikahan.

Setelah ‘Only Ones Who Know’, ‘Old Yellow Bricks’ serta ‘505’ boleh disebut sebagai karya-karya terbaik Arctic Monkeys selanjutnya pada periode ‘Favourite Worst Nightmare’. Mereka mulai mencoba menulis perihal rindu dan cinta yang melankolis namun enggan cengeng, juga mulai bereksperimen dengan warna-warna selain distorsi standar, mencoba synthesizer, mencoba violin, bahkan juga bercanda dengan dinamika musik ala-ala crescendo.

‘Favourite Worst Nightmare’ pun segera menuai banyak kritik positif dari para pendengar, dari majalah-majalah musik, dari para kritikus, dan dari musisi-musisi professional lainnya. Kemudian mendapat penghargaan Best British Album oleh BRIT Awards di 2008, terjual sampai 220.000 kopi hanya dalam waktu seminggu, langsung duduk di puncak tangga album UK pada waktu perilisan, bahkan pada beberapa tangga album di negara-negara besar Eropa ‘Favourite Worst Nightmare’ juga selalu berada di kelompok 10 tertinggi. Menyaingi dominasi musisi-musisi lokal di wilayah tersebut.

Antisapasi dibayar tuntas. ‘Favourite Worst Nightmare’ resmi melebarkan pintu untuk Arctic Monkeys menjadi lebih besar seperti sekarang. Menjadi obat rindu bagi para penggemar kuartet asal Sheffield sebelum Alex Turner mengenal pomade dan berubah menjadi simbol sex tanpa tanda tanya.

Ya, kondisi yang mirip-mirip favourite worst nightmare juga.