Liner Notes: Favourite Worst Nightmare oleh Arctic Monkeys

1

‘Favourite Worst Nightmare’ menjadi album pertama yang diantisipasi tinggi oleh komunitas indis, sejak ‘Second Coming’ dari The Stone Roses.

Setelah album debut ‘Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not’ berhasil menorehkan tinta emas di catatan industri musik rock alternatif, Arctic Monkeys dituntut menunjukkan kalau popularitas mereka bukan sekadar keberuntungan belaka. Berlalu ke tahun 2007, ‘Favourite Worst Nightmare’ lantas menjadi jawaban tepat si kuartet asal Sheffield.

‘Favourite Worst Nightmare’ menyajikan karakter yang lebih ambisius, tebal, padat, keras, dan cepat, sembari tetap menyuguhkan lirik-lirik tajam dan matang ketika menyampaikan satire.

Baca juga: Liner Notes – Viva Hate oleh Steven Patrick Morrissey

Masih dipengaruhi The Smiths, The Strokes, dan juga Josh Homme, album kedua Arctic Monkeys langsung saja menghentak telinga para pendengarnya ketika track pertama ‘Brianstorm’ bergemuruh.

Matt Helders menabuh drumnya seakan-akan menggunakan 12 tangan, dan Nick O’Malley ikut mengencangkan gemuruh dengan harmoni bassnya. Sesaat kemudian alunan distorsi surfing pun ikut berputar, mengawali Alex Turner yang mulai menyuarakan satire. Menggunakan seorang karakter yang pernah ditemui oleh Arctic Monkeys di saat tampil di Jepang, Turner tancap gas menyerang fenomena ‘belagak keren dan kenal dekat dengan semua artis’ di komunitas musik.

“See you later, innovator!” lalu menjadi frasa ikonik pembuka album.

Sehabis ‘Brianstrom’, Arctic Monkeys kembali melanjutkan atmosfer ‘Fake Tales Of The San Fransisco’ pada album sebelumnya. Berbekal aroma yang lebih keras dan lirik yang lebih tajam menyindir, Turner dan kawan-kawan melanjutkan serangan satire kepada budaya selebriti.

Turner mengambil salah satu slang di lingkungan Sheffield, “teddy picker,” sebagai analogi keluhannya ketika melihat publik seringkali mengaburkan batas di antara pekerja seni dan selebriti-selebriti tanpa karya seni.

Pada track ke-3, ‘Favourite Worst Nightmare’ masih tetap menjaga tempo tinggi. Meski lebih didominasi oleh alunan bass daripada kerasnya distorsi gitar, bagi para pendengar, ‘D Is For Dangerous’ sering dinilai sebagai ciri utama karakter album yang keras dan kasar. Titel album ‘Favourite Worst Nightmare’ pun dikutip dari barisan lirik ‘D Is For Dangerous.’

Menyusul pada track selanjutnya adalah ‘Balaclava’. Tempat dimana Arctic Monkeys mendapat kesempatan untuk lagi-lagi menonjolkan warna musik yang cepat nan kompak, biarpun sebenarnya Turner justru mencoba bicara tentang tema yang cenderung klise di usia remaja.

Pada akhir ‘Balaclava’, track ‘Fluorescent Adolescent’ mulai menurunkan tempo album. Dibantu oleh Johanna Bennett, Turner menyampaikan rasa takutnya menghadapi dunia dewasa. Ia pun menulis bagaimana ia melihat kehidupan setelah remaja akan selalu tampak jauh lebih membosankan daripada liarnya periode muda.

Memiliki tema yang begitu relevan, ‘Fluorescent Adolescent’ mendapat bonus – menjadi hits terpopuler ‘Favourite Worst Nightmare’.

Menyudahi periode cepat, keras, dan tajam, Arctic Monkeys menurunkan total ritme album pada ‘Only Ones Who Know’. Mereka menampilkan percobaan pertama mereka berkreasi dengan ballad. Hasilnya? Romansa menyapa, tepat diputar di lantai dansa pernikahan.

‘Only Ones Who Know’ bukan hanya tentang percobaan pertama Arctic Monkeys mencipta ballad, tapi juga pintu yang mendekatkan Turner dan kawan-kawan dengan tema-tema melankolis perihal rindu dan cinta. Track ‘505’ adalah salah satu hasil terbaiknya – melukisakan gelisah pada cinta tanpa perlu mencoba cengeng.

Eksperimen musik pun turut menjadi warna. Arctic Monkeys bukan lagi unit rock yang bermain hanya dengan drum, distorsi standar, dan dentum bass, tapi juga alun mendayu-dayu synthesizer, serta violin.

Pasca perilisan, ‘Favourite Worst Nightmare’ segera menuai kritik positif terus-menerus dari para pendengarnya, dari majalah-majalah musik, dari para kritikus, dan dari musisi-musisi professional lainnya. Belum berhenti, album kedua dari kuartet Sheffield tersebut juga mendapat penghargaan Best British Album oleh BRIT Awards di 2008, terjual sampai 220.000 kopi hanya dalam waktu seminggu, langsung duduk di puncak tangga album UK pada waktu perilisan. Bahkan pada beberapa tangga album negara-negara besar Eropa ‘Favourite Worst Nightmare’ juga selalu berada di kelompok 10 tertinggi.

Antisapasi dibayar tuntas. ‘Favourite Worst Nightmare’ resmi melebarkan pintu Arctic Monkeys untuk menjadi lebih besar seperti sekarang. Pergi dari tepian kota Sheffield, lalu menjelma sebagai rock-star Las Vegas.