Liner Notes: Kisah Klasik Untuk Masa Depan oleh Sheila on 7

0
36
views
[last.fm]

Kalau album kedua dari Sheila On 7 pernah mengajarkan sesuatu, maka cinta, sahabat, dan masa remaja akan selalu menjadi cerita terbaik untuk masa depan adalah ajarannya.

Berbekal curahan hati tentang sahabat, serta cerita klise seputar manis pahitnya cinta, Sheila On 7 segera menasbihkan dirinya sebagai band pop Indonesia kelas profesional pada album ‘Kisah Klasik Untuk Masa Depan’. Mereka tampil lebih matang, lebih dewasa, baik secara musikalitas, penampilan, juga penulisan lirik, daripada album debut di tahun 1999.

Pada album yang kedua, banyak kritik positif menilai bila Duta sudah berada pada titik vokal yang jauh lebih nyaman; pun permainan gitar Eross dan Sakti terdengar sedikit demi sedikit meninggalkan pengaruh keras brit-pop, lalu menghasilkan karakter tersendiri untuk identitas Sheila On 7; sementara Adam dan Anton juga semakin variatif dalam menyajikan ritme, sehingga ‘Kisah Klasik Untuk Masa Depan’ terdengar lebih berwarna daripada album-album aliran pop lainnya di awal tahun 2000-an.

Tapi yang menarik, meski mengambil tema musik cenderung cengeng, lirik-lirik pada ‘Kisah Klasik Untuk Masa Depan’ justru jarang sekali dinilai basi atau menggelikan oleh para pendengarnya. Eross Candra, sang penulis utama lirik, malah dianggap cerdas memainkan diksi, memilih kata dan bahasa, serta pandai menciptakan karakter yang ikonik.

Ketika ‘Sephia’ pertama kali diperkenalkan pada industri musik, tanda-tanda bila album kedua Sheila On 7 akan menjadi kisah klasik yang melegenda lantas terlihat jelas.

Menceritakan figur rahasia dalam kisah cinta segitiga, Eross berhasil menuliskan lirik untuk memancing para pendengar agar terjebak oleh teka-teki siapa sosok ‘Sephia’ sebenarnya. Sejumlah isu dan rumor pun kemudian beredar luas mengikuti popularitas ‘Sephia’. Ada yang menyebutnya sebagai pengalaman pribadi Eross ketika SMA, ada yang menyebutnya sebagai teman Eross dari dunia gaib, dan ada juga yang menyebut kalau Shepia adalah salah satu penggemar berat Sheila On 7, namun telah meninggal dunia akibat kecelakaan motor.

Terlepas dari kekuatan lirik, Sheila On 7 juga harus mengucapkan terima kasih pada komposer kenamaan, Erwin Gutawa, yang bertanggung jawab atas aransemen gesek pada lagu ‘Shepia’. Hadirnya suara violin pada lagu tersebut adalah salah satu alasan mengapa Sheila On 7 bisa menyajikan hit populer dengan tema kekasih gelap.

Sosok Erwin Gutawa bahkan kembali menjadi penting kalau mengingat track kelima pada album ‘Kisah Klasik Untuk Masa Depan’.

Membawa atmosfer perpisahan di ujung persahabatan, ‘Sebuah Kisah Klasik’ menjadi klimaks tepat untuk album kedua dari Sheila On 7. Mengandalkan barisan lirik jujur tanpa basa-basi, Eross sekali lagi menunjukkan kepiawaiannya untuk memainkan gejolak emosi umat manusia di masa muda. Bukan hal mengagetkan kalau kemudian ‘Sebuah Kisah Klasik’ sering menjadi lagu latar wajib bagi para remaja di ujung periode sekolah.

Untuk angka penjualan sendiri, ‘Kisah Klasik Untuk Masa Depan’ memiliki catatan yang sama baiknya. Kerjasama apik Sony Music dan manajemen Sheila On 7 merupakan salah satu faktor utamanya. Terjual sampai 150 ribu copy hanya pada hari pertama perilisan, lalu menyentuh angka sampai 1.7 juta copy setelah satu tahun beredar, ‘Kisah Klasik Untuk Masa Depan’ sudah sepantasnya dibaptis titel istimewa.

Antisipasi terbayar tuntas. ‘Kisah Klasik Untuk Masa Depan’ berhasil menunjukkan kualitas Sheila On 7 di kancah industri musik pop Indonesia. Mematangkan mereka lebih dari sekadar musisi pendatang baru, membuka gerbang menuju lingkaran band-band legendaris di Indonesia.

Seperti Nokia dan Symbian, ‘Kisah Klasik Untuk Masa Depan’ pun menjadi catatan indah yang hadirnya masih selalu dikenang oleh para pencinta musik di awal millenial, dan juga oleh mereka yang selalu rindu musik pop berkualitas dari Indonesia.