Memahami Makna Kaum Barbar Lewat Pocahontas

0
[Bustle] Pocahintas, 1995

Bukan soal siapa yang lebih pandai dan beradab, Pocahontas mencerahkan pikiran kita tentang definisi dari kaum barbar yang sesungguhnya.

Tidak hanya menyuguhkan kisah cinta romansa antara gadis Indian dengan Jonh Smith, penjelajah Inggris, Pocahontas juga mengangkat kisah sejarah yang pernah terjadi di masa lampau. Seperti yang bisa kalian temukan dalam mata pelajaran sejarah, bangsa Eropa gemar melakukan penjelajahan dan mengklaim tanah tak berpenghuni untuk memperluas daerah kekuasaannya.

Dalam kisah Pocahontas, sempat disebutkan bahwa bangsa kulit putih digambarkan sebagai sekelompok serigala kelaparan yang mengarungi dunia untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan–meski artinya mereka harus memberantas penduduk asli yang telah mendiam suatu pulau. Suku Indian menyebut bangsa kulit putih ini sebagai ancaman dan manusia barbar yang akan membantai kaum mereka.

Baca juga: Sensitif, Insan Kreatif di Planet Kami Takut Berkarya

Sementara itu, bangsa Eropa merasa lebih berkuasa untuk mengklaim tanah manapun, tak peduli dengan pendiam pulau yang sudah berada di sana terlebih dahulu. Karena mereka lebih pandai dan kaya akan inovasi, maka mereka merasa sebagai kaum yang lebih beradab. Mengenakan pakaian yang rapi, berbicara dengan bahasa beradab, dan tinggal di dalam bangunan yang nyaman dan memiliki sistem kehidupan yang tertata dan terstruktur.

Bagi mereka, suku pedalam adalah suku ‘barbar’, yang harus mereka berantas seperti hama pada sebuah pulau, agar mereka bisa membangun peradaban di pulau tersebut.

Namun, Pocahontas menyadarkan kita melalui nyanyiannya yang berjudul Colors of The Wind.

Bangsa Eropa selalu berpikir bahwa suku pedalam adalah barbar karena mereka tidak memiliki penampilan dan berpikir seperti mereka. Padahal, suku pedalaman juga memiliki sistem kehidupan, mereka juga memiliki peradabannya sendiri, peradaban sederhana yang tidak secanggih milik mereka. Namun, canggih ataupun tidak, peradaban tetaplah peradaban

Suku pedalaman maupun bangsa kulit putih juga menganggap masing-masing adalah ancaman yang berkata-kata dalam bahasa tak beradab. Hal ini wajar terjadi, karena mereka memang memiliki bahasa yang berbeda. Dibutuhkan pemahan akan latar belakang yang berbeda agar terjadi hubungan baik dimana kedua belah pihak untuk saling memahami apa yang menjadi haknya masing-masing.

“You think the only people who are people are the people who look and think like you, but if you walk the footsteps of a stranger, you’ll learn things you never knew” – Pocahontas, Colors of The Wind

Kita selalu menganggap orang yang berbeda dari kita sebagai ancaman. Padahal, jika kita hendak terbuka dengan hal baru, kita mampu mempelajari hal yang belum kita ketahui sebelumnya, kebudayaan baru, yang semakin menambah wawasan kita tentang kehidupan dan kita akan lebih lapang dada untuk menerima perbedaan.

Jadi, apa yang dimaksud dengan kaum barbar? Barbar atau tidaknya suatu kaum manusia tidak ukur dari seberapa canggih dan megahnya peradaban yang mereka miliki, tapi seberapa  mampu mereka menerima hal baru sebagai wawasan, bukannya ancaman. Selama suatu kaum tidak merugikan kaum lain, maka, mereka tak pantas disebut barbar, bukan?