Alien Mengenal Indonesia: Under The Big Bright Yellow Sun

0
[Artwork oleh Satria Bayu]

“Kita bukan pionir, tapi kita salah satu yang konsisten dan terus aktif.”

Bagi sebuah band, untuk bisa terus bernafas di industri musik planet Bumi adalah pekerjaan sulit. Apalagi kalau bermain di aliran yang jauh dari arus utama – tanpa modal irama pop yang radio-friendly, juga tanpa senjata lirik satu kata pun.

Tapi tentu, bukan berarti mustahil.

–Baca juga: Liner Notes – Ágætis Byrjun oleh Sigur Rós

Tahun 2007, Yadi Musholih (alias Komeng) adalah salah satu humanoid di antara penduduk planet Bumi yang berani mencoba tantangan tersebut. Motivasinya sederhana, supaya dapat memainkan jenis musik kesukaannya. Maka kemudian, setelah bertemu dengan Iben di salah satu galeri seni di belahan timur kota Bandung, ia segera membentuk Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS). Unit musik dengan post-rock instrumental sebagai alirannya.

Baik Komeng atau Iben sama-sama menyukai jenis musik post-rock setelah sebelumnya berkenalan lebih dulu dengan karya-karya dari Explosions In The Sky, This Will Destroy You, Sigur Rós, Mono, Mogwai, dan Caspian. Nama-nama yang memang sudah lebih dulu punya popularitas tinggi di skena musik serupa.

“Kalau post-rock, emosinya lebih ngena aja,” sebut Komeng ketika membagi cerita bagaimana UTBBYS bermula pada kami.

Memulai petualangan di industri musik, UTBBYS pertama kali beranggotakan Komeng, Ion, dan Apo sebagai gitaris, serta Iben sebagai penabuh drum. Namun belum juga merilis album debut, Ion dan Apo kemudian harus berpisah dengan UTBBYS untuk fokus pada pilihan karir lainnya. Posisi keduanya pun lantas digantikan oleh Panji dan Jay.

Tapi lagi-lagi, kedua nama terakhir juga harus menyebut kata pisah pada UTBBYS.

Kali ini, dua humanoid Bumi pencinta musik lainnya, Eza dan Ranyay yang datang sebagai penyelamat. Kehadiran keduanya bahkan bukan sekadar menyambung nafas band, mereka juga menjadi pelecut semangat bagi Komeng dan Iben, setelah keduanya harus beberapa kali melihat punggung dari anggota band pergi menjauh.

Menyusul Eza dan Ranyay, Gani lantas melengkapi kepingan UTBBYS pada posisi pemain bass.

Bergonta-ganti personel bukanlah satu-satunya tantangan UTBBYS ketika masih menjalani fase awal di industri musik. Seperti ‘Ágætis Byrjun’ di periode akhir 1990-an, memperkenalkan musik post-rock kepada khalayak penikmat musik juga menjadi pekerjaan berat Komeng dan kawan-kawannya. Pada skala internasional saja identitas post-rock masih terlalu asing – maka tentu saja “sepi tawaran manggung” segera memperpanjang daftar tantangan UTBBYS di industri musik.

“Itu kenapa akhirnya kita coba bikin Quietloud dulu, sebelum kita rilis album,” jelas Komeng kembali. “Kita sih dulu mikirnya jarang dapet tawaran manggung di pusat kota… gara-gara masih banyak orang yang belum kenal sama post-rock. Jadi, ya, terus kita coba aja deh bikin pentas musik sendiri. Kita ajak temen-temen musisi dari aliran yang sama, yang mirip. Inti acaranya sih… supaya UTBBYS dapet jatah manggung aja dulu. Kita mah belum mikir dapet uang dulu kalau di awal-awal.”

Biar sempat terdengar konyol dan unik, kami tetap berujung pada senyum salut. Kalau belum punya pasar, memang ciptakan pasar sendiri dulu pilihannya.

Quietloud nyatanya memang punya peran besar untuk memperkenalkan identitas UTBBYS di skena musik Indonesia. Berkat festival musik tersebut, komunitas pendengar musik jenis post-rock yang sebelumnya masih abu-abu, mulai tampak nyata dan terus bertambah jumlahnya. Lalu membantu UTBBYS dapat bertemu dengan band-band lainnya di aliran serupa, baik dari atau luar kota Bandung.

UTBBYS tak lagi berjalan sendiri di industri musik yang sering kejam pada musisi-musisi idealis seperti mereka.

Antusias mulai terbentuk, merilis album jadi misi selanjutnya.

Berganti di tahun 2010 – setelah Quietloud digelar beberapa kali – UTBBYS akhirnya merilis karya kolektif yang pertama. Satu buah split-album bertitel ‘We Sit Under The Big Bright Yellow Sun In The Sparkle Afternoon’. Album yang merupakan hasil kerjasama dengan salah satu unit dreampop, juga berasal dari kota Bandung, yaitu Sparkle Afternoon.

Split-album tersebut total menyajikan 6 buah track, dengan masing-masing band menyumbang 3 buah track. UTBBYS sendiri mengandalkan track ‘Golden Day’, ‘Song Before Sunset’, dan ‘Kim’ untuk menjadi pijakan pertama.

Menyusul perilisan split-album, UTBBYS ternyata masih harus kembali berkutat dengan permasalahan klasik konsistensi anggotanya. Gani, sang pembetot bass, memutuskan keluar dari band, dan posisinya lantas digantikan oleh Didi, yang sebelumnya memang sudah dekat dengan setiap anggota UTBBYS.

Bersama Didi, UTBBYS enggan berpikir panjang lagi. Mereka segera menancap gas, melanjutkan momentum dari perilisan split-album dengan mematangkan setiap materi untuk full-album pertama. Beberapa materi dari ‘We Sit Under The Big Bright Yellow Sun In The Sparkle Afternoon’ pun tetap diikutsertakan sebagai bagian dari album selanjutnya.

Sekitar satu setengah tahun kemudian, tepatnya di bulan Maret 2012, full-album debut UTBBYS sudah siap diperkenalkan pertama kali kepada publik penikmat musik. Berisikan ‘Time is Near’, ‘Threshold’, ‘Robotics’, ‘Happiness Between Us’, ‘Golden Day (Finally Found)’, ‘Circus Travelling Show’, dan ‘Breathe Symphony’ yang terbungkus apik di balik titel album ‘Painting of Life’.

Hasilnya?

Layaknya kehidupan humanoid Bumi yang sejatinya abstrak di antara bintang-bintang, begitu pula atmosfer ‘Painting of Life’ ketika ia menyapa kedua telinga setiap pendengarnya. Susah dijelaskan namun penuh warna, sarat emosi meski tanpa satu kata pun dari KBBI. Semangat, senang, rindu, sedih, bahagia, horor, tawa, tegang, silih berganti merepresentasikan album pertama UTBBYS di muka Bumi.

Fantasi tak lagi punya batasan jika ‘Painting of Life’ sudah bersuara.

Tapi sayang, meski memiliki materi menarik dan imajinatif, album pertama UTBBYS tersebut tetap saja harus menempuh jalan yang cukup panjang untuk sampai ke ruang pendengar yang lebih luas. Berhasil merilis album mungkin hanya kebanggaan sesaat, memperkenalkan karya pada khalayak tetap saja jadi pekerjaan utama.

Beruntung UTBBYS dikelilingi oleh komunitas musik yang kuat dan saling mendukung satu sama lain. Karya-karya eksperimental mereka perlahan tapi pasti terus melaju dari satu telinga ke telinga lainnya. Hingga lalu memaksa sejumlah penyelenggara festival musik di Indonesia untuk memberi UTBBYS kesempatan yang sama dengan musisi-musisi dari arus utama. Tampil di atas panggung tahunan Kickfest kota Bandung pun bukan lagi sekadar mimpi di awal karir bagi Komeng dan Iben.

Selepas masa-masa perilisan ‘Painting of Life’ mulai berlalu, masalah bongkar pasang anggota ternyata masih harus tetap singgah di tubuh UTBBYS. Biar sudah mulai menemukan jalan di industri musik, Iben, sang mesin di balik drum-kit, yang kini harus menyusul Ion, Apo, Panji, Jay, dan Gani. Posisinya lantas sempat digantikan oleh beberapa nama, seperti Rida dan Taufik (atau lebih sering disapa Uwee).

Menyambut tahun 2013, UTBBYS enggan bersantai-santai di industri musik hanya dengan bermodalkan satu album saja. Mau bagaimana juga, mereka adalah sekelompok musisi eksperimental, mencari nada dan menulis musik di studio sudah setia menjadi prioritas yang menyenangkan. Tanpa basa-basi lebih banyak, album kedua segera mereka tetapkan sebagai tantangan segar.

Yang terjadi?

Panggung internasional mulai dijamah.

Pada bulan Juli 2013, setelah lebih dulu memperkenalkan track ‘Ironic’ sebagai bagian dari rencana album kedua, UTBBYS lalu mendapat undangan dari salah satu band asal Singapura, Paint The Sky Red, untuk bermain di pentas musik bernama Lyrics not Include.

Antusias dari luar Indonesia bukan lagi cerita fiksi bagi UTBBYS.

Menyusul satu tahun setelah gelaran Lyrics not Include, UTBBYS kembali mendapat kesempatan manis untuk beraksi di Singapura. Sekarang, panitia penyelenggara Mosaic Music Festival ke-10 yang terpaksa harus menyerah pada racun adiksi tingkat tinggi dari karya-karya UTBBYS.

Berangkatlah kelima pemuda Sunda itu kembali ke Singapura, untuk tampil dalam satu festival bersama salah satu idola mereka, Caspian.

“Ya, kurangnya sih, kita belum satu satu panggung sama mereka,” sesal Didi sedikit mengingat kisah UTBBYS tampil di Singapura untuk kedua kalinya.

“Tapi uniknya ya – kesempatan main di Singapura yang kedua itu kita pakai jadi ajang rilis album kedua,” sambung Didi cepat.

Ketika telah dijadwalkan untuk tampil di acara Mosaic Music Festival ke-10 pada tanggal 13 Maret 2014, UTBBYS baru saja menyelesaikan pengerjaan album yang kedua – bertitel ‘Quintessential Turmoil’. Momen tersebut lalu dirasa tepat oleh band dan manajemen sebagai hari perilisan.

Hasilnya?

Lagi-lagi indah.

‘Quintessential Turmoil’ bukan sekadar melanjutkan momentum ‘Painting of Life’ di skena musik post-rock. Bermodalkan sepuluh lagu, Komeng, Ranyay, Ezza, Didi, dan Uwee menunjukkan UTBBYS bukanlah sekadar band instrumental biasa. Mereka mulai menunjukkan rasa nyaman bermain di skena post-rock yang asing. Identitas UTBBYS juga semakin kuat dan menjauh dari pahlawan-pahlawan musik mereka, seperti Explosions In The Sky, This Will Destroy You, dan Caspian.

Bukan perkara mudah untuk menciptakan karakter musik bagi sebuah band, apalagi kalau tanpa bantuan seorang vokalis dan lirik. Warna suara seorang penyanyi biasanya dengan mudah membantu para pendengar untuk mengenali pemilik dari sebuah lagu, begitu juga dengan gaya bahasa yang dipakai ketika menulis lirik. Lihat saja Efek Rumah Kaca, Sheila on 7, Gigi, Peterpan, dan ST 12.

Kalau cuma instrumental?

Entahlah, tanya UTBBYS saja – dengan ‘Quintessential Turmoil’, mereka adalah salah satu yang berhasil.

UTBBYS bukan lagi peranakan dari Explosions In The Sky dan Caspian, UTBBYS adalah UTBBYS.

Indah, abstrak, imajinatif, dan punya daya candu.

Tapi, lagi-lagi dan lagi, seakan-akan déjà vu, meneruskan cerita manis perilisan album kedua, UTBBYS kembali harus menjumpai kata pisah. Uwee yang sebelumnya berhasil dengan baik mengisi kekosongan di posisi penggebuk drum, harus menyudahi periode bermain musik bersama Didi, Ezza, Ranyay, dan Komeng akibat prioritas lainnya di tahun 2016. Tepatnya sebelum band melaksanakan tur Circus Travelling Show ke pulau Sumatera.

Harry “Koi” dari The Triangle, Diocreatura, Ansaphone, dan Trou, yang lalu perlahan-lahan dipercaya untuk mengambil alih tugas sebagai kreator ketukan.

Sekarang, bersama Koi, UTBBYS pun kembali mempersiapkan materi-materi terbaru untuk album selanjutnya.

“Belum ada setengah persen nih kalau album baru,” cerita Didi

Kami cuma menjawab, “Musik yang asik emang gak boleh buru-buru, Kang,” padahal kami sendiri cuma sok tahu saja bagaimana proses sekelompok manusia menulis musik.

Biar begitu, UTBBYS sendiri memang sudah menunjukkan kalau kisah manis memang perlu waktu yang panjang untuk ditemukan.

Mengetuk pintu industri musik di tahun 2007, mulai menebar benih di tahun 2010, mencuri perhatian publik luas baru di tahun 2013, sampai pada akhirnya, belakangan mulai sering disebut ‘pionir’ skena post-rock di Indonesia. Periode waktu 10 tahun bukanlah rentang yang singkat bagi UTBBYS untuk mencapai posisinya hari ini. Berbagai macam tantangan harus disiasati satu per satu, mulai dari konsistensi anggota, dukungan finansial, kesulitan mendapatkan panggung, hingga beradu kualitas dengan musisi-musisi di arus utama.

Kickfest, Soundrenaline, Mosaic Music Festival, bukan lagi sekadar pemanis cerita UTBBYS di industri musik, tapi salah satu bukti konsistensi dan kejujuran berkarya akan selalu berbuah apresiasi.

“Kita bukan pionir, tapi kita salah satu yang konsisten dan terus aktif,” jawab Komeng berkomentar ketika kami menyebut UTBBYS adalah “penggerak” skena musik post-rock di Indonesia.

Selamat ulang tahun, UTBBYS! Ten years rocking out the planet Earth!

Terus berkarya! The universe need more and more of your music!

Salam penuh cinta dari planet Sigur.