Petualangan Rick dan Morty: Petualangan Kembali ke Titik Nol

16
Rick dan Morty
[Inverse]

Punya kecenderungan menjadi nihilis bukan lagi budaya baru di planet Bumi. Ide-ide ikonik Nietzsche tentang eksistensi manusia yang nihil memang sudah populer sejak lama. Hanya saja belakangan, kata nihilis lagi-lagi bergaung cukup keras. Entah darimana awal mulanya, memang masih berupa tanya, tapi popularitas Rick dan Morty boleh jadi penyebab utamanya. Atau paling tidak salah satunya.

Sarat dengan komedi hitam seperti The Simpsons atau Family Guy, Rick and Morty pun adalah serial kartun untuk umat manusia dewasa. Terus mendulang kritik positif sejak episode pertama hingga musim yang ketiga, karya Dan Harmon dan Justin Roiland itu sukses menyajikan premis-premis menarik seputar nihilnya arti hadir manusia di alam semesta. Bagaimana bisa?

Lovecraft dan (tentu) Nietzsche adalah kuncinya.

Baca juga Liner Notes: Sempiternal oleh Bring Me The Horizon

[Popkey]

H.P. LOVECRAFT dan HOROR KOSMIK

Cerita-cerita petualangan Rick and Morty berpusat pada seorang ilmuwan tua, bernama Rick Sanchez, yang jenius dan sedang bosan menjalani masa tuanya. Rick lalu menghabiskan hari-harinya dengan pergi bertualang melintasi dunia paralel (terkadang juga luar angkasa), bersama dengan cucu laki-lakinya, Morty Smith. Lain kata, sebut saja versi kartun dari waralaba Back To The Future.

Harmon dan Roiland memang sama sekali tidak pernah menyembunyikan obsesi mereka pada karya-karya fiksi ilmiah. Menjelajah karya-karya fiksi ilmiah dan horor sampai seluk beluk terdalamnya bukan lagi pekerjaan baru bagi mereka berdua. Hampir pada setiap episode Rick and Morty sering disajikan adegan atau cerita yang mengambil referensi dari karya-karya lainnya di rumpun serupa – entah Ghostbuster, David Cronenberg, Inception, Freddy Krueger, Zardoz atau lainnya.

Terus menerus menggali aliran fiksi ilmiah dan horor, Rick and Morty pun mengadaptasi sejumlah kebiasaan yang berlaku pada kedua aliran itu. Horor kosmik adalah salah satunya. Sebuah gaya bercerita yang populer setelah H.P. Lovecraft melahirkan literasi ikoniknya, The Call of Ctulhu.

Omong-omong Ctulhu, ilustrasi monster ciptaan Lovecraft itu juga punya jatah tayang pada setiap scene pembuka episode Rick and Morty.

Kembali tentang horor kosmik – gaya bercerita yang disebut-sebut dapat mengerdilkan status manusia hanya dengan khayalan. Horor kosmik dapat memunculkan teror kepada manusia, bukan dengan suster yang tiba-tiba sedang keramas, tapi dengan imaji bahwa keberadaan manusia di alam semesta tidak lebih berarti dari sekedar butiran debu. Nihil.

Gaya bercerita seperti horor kosmik dapat memberikan suatu imajinasi yang baru, yang lantas ketika disimak, akan dapat memberi rasa ngeri, takut, atau mungkin saja menjijikan. Horor kosmik selalu punya potensi untuk seketika mengacaukan realitas yang sebelumnya dipegang teguh oleh seorang manusia. Wajar, sebab horor kosmik memang sering digunakan oleh para pencerita agar menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan standar namun menyulitkan, seperti “Apa tujuan hidup bangsa manusia sebenarnya?” atau “Bagaimana wujud Tuhan?” atau juga “Apa yang dialami oleh manusia setelah kematian?”

 

Pada The Call of Ctulhu misalnya, teror bukan datang dari keadaan dimana seorang protagonis menerima ancaman mematikan yang dapat saja membunuhnya, tapi datang dari ditemukannya The Great Old One, enititas raksasa yang meniadakan arti kehadiran manusia di alam semesta.

Rick and Morty sendiri, meski berwajah komedi, justru senantiasa mengadaptasi gaya narasi H.P. Lovecraft tersebut. Mereka seringkali melompat dari satu dunia paralel ke dunia paralel lainnya, lalu menyentil keabsahan realitas para manusia dengan satu-dua imajinasi sederhana, namun kritis. Pada episode Get Schwifty, Harmon dengan horor kosmiknya, malah sempat menuliskan khayal jika suatu ketika akan tiba saatnya makhluk-makhluk superior dari luar angkasa datang, lalu mengancam kesejahteraan planet Bumi, dan menjadi Tuhan terbaru bagi umat manusia.

Makhluk-makhluk tersebut  bernama Cromulon, berukuran raksasa, bermaterikan bebatuan, anggota tubuhnya hanya berupa wajah yang kaku. Makhluk-makhluk itu mendarat di planet Bumi, dan seketika meneror penduduk setempat, layaknya Arrival, karya fenomenal Dennis Villeneuve di tahun 2016.

Berbeda dari Arrival yang membahas detail tentang perspektif dan komunikasi, Cromulon ciptaan Harmon dengan gamblang menyepelekan kedudukan manusia sebagai warga alam semesta. Berbagai premis lantas muncul untuk menyentil sejumlah kultur yang biasa hadir di kehidupan sosial manusia. Mulai dari tentang orisinalitas agama – lahir dan bermula hanya dari kebetulan saja, sampai dengan kenyataan bahwa manusia beserta planet Bumi sebenarnya adalah cuma peserta pencarian bakat.

Entitas kosmik berukuran besar bukanlah dongeng baru pada aliran horor kosmik, apalagi di aliran fiksi ilmiah. Entah novel, serial televisi, atau film kerap menggunakan entitas kosmik berukuran besar sebagai awal cerita. Lihat saja Armageddon, War of The Worlds, atau makhluk-makhluk ras leluhur pada novel The Call of Cthulhu. Memang bukan satu-satunya akibat, tapi hadirnya entitas besar dari luar angkasa seperti Cromulon, dapat menjadi jembatan indah untuk melamunkan jawaban dari teka-teki tentang eksistensi manusia di Bumi. Misal, seberapa penting kehadiran manusia di alam semesta?

Kisah-kisah fiksi ilmiah klasik seperti Star Trek, Star Wars, atau dongeng para superhero Marvel, seringkali menjadikan umat manusia, secara metafora, adalah pusat dari alam semesta – adalah entitas yang penting hadirnya di muka dunia. Menjadi lawan atau menjadi kawan, menjadi pemimpin regu atau menjadi budak, ras manusia selalu diposisikan sebagai peran utama yang menentukan nasib seluruh dunia. Lalu sebaliknya, horor kosmik justru menyerang gaya narasi seperti itu. Horor kosmik malah bertanya, “Bagaimana kalau ternyata alam semesta sama sekali tak peduli pada eksistensi umat manusia?”

Teror datang. Depresi dan pesimis jadi jawabnya.

Rick dan Morty menyatakan dengan sempurna konsep pesimisme ini di muka layar kaca. Mereka berdua bahkan pernah mati, hanya untuk digantikan oleh Rick dan Morty versi lainnya dari dimensi realitas yang berbeda. Rick and Morty bukan cuma berbagi pesan kalau umat manusia hanyalah butiran debu di alam semesta, tapi juga mengingatkan kalau manusia mungkin saja sebenarnya adalah butiran debu dari sekian banyak versi debu di dunia multi-dimensi tanpa batas.

Menariknya, Harmon dan Roiland lantas menjadikan kesan pesimis itu sebagai senjata komedi.

Komedi hitam lebih tepatnya.

Lain contoh pada episode The Ricks Must Be Crazy, diceritakan bila aki pesawat luar angkasa Rick ditenagai oleh alam semesta buatannya sendiri, berukuran mikro, dan menjadi rumah bagi alien-alien berwarna hijau mungil, yang bisa jadi berukuran bahkan lebih kecil daripada sebuah atom. Lalu di alam semesta buatannya itu, Rick berperan sama sebagaimana Cromulon atau monster Cthulhu, menjadi entitas kosmik yang di-Tuhan-kan.

Rick menjadi Tuhan di tengah dunia dengan dimensi yang berbeda. Di tengah dunia yang ia ciptakan sendiri.

Dengan jumlah alam semesta yang berlapis-lapis tanpa batas, berjuta jenis kemungkinan di luar kultur biasa umat manusia pun ditawarkan. Perlahan, nilai moral serta eksistensi hilang artinya, dan yang menyisa hanya pesimis.

NIETZSCHE dan SAINS

Seperti Nietzsche dan filosofinya, Rick and Morty senantiasa mempertanyakan eksitensi umat manusia di alam semesta. Baik eksplisit atau implisit, Harmon dan Roiland selalu menyelipkan teka-teki terburuk di dunia tersebut. Mr. Meeseeks yang terlahir hanya untuk melatih Jerry agar pintar bermain golf, atau robot kecil yang diciptakan hanya untuk membawa mentega – adalah interprestasi konyol kreator Rick and Morty ketika berbicara eksistensi manusia.

Hanya saja menyedihkan, Rick mampu menjawab pertanyaan sesat itu.

Menggunakan formula matematika yang membingungkan, sains mengizinkan umat manusia untuk dapat menebak sejumlah teka-teki tentang alam semesta. Tapi sebagai makhluk berperasaan, manusia juga harus rela berhadapan dengan fakta suramnya eksistensi mereka di muka semesta. Rick and Morty menunjukkan jika logika murni memiliki potensi untuk mendekatkan umat manusia dengan perasaan pesimis akan kehadiran mereka di antara bintang-bintang.

Sains dapat menghilangkan indahnya tradisi atau emosi, lantas mengubah semua pengalaman hidup manusia menjadi sesuatu yang nihil, tanpa esensi lagi. Sebagaimana Nietzsche melantur pada cerita The Parable of The Madman – narasi yang mengisahkan seorang pria tua yang tiba-tiba datang ke pusat kota, lalu berteriak keras-keras, meracau tanpa henti, “Tuhan sudah mati! Dan kita telah membunuhnya!”

Tentu bukan membunuh secara harfiah. The Parable of The Madman adalah kesempatan Nietzsche menuliskan metafora jika setelah periode pencerahan dan revolusi ilmu pengetahuan, entitas besar di balik alam semesta – Tuhan (dan agama), yang sebelumnya memberi umat manusia tujuan hidup dan makna eksistensi, perlahan akan hilang, lenyap habis karena kelak tidak akan relevan dengan ilmu pengetahuan (sains).

Barangkali Nietzsche berpikir jika pada akhirnya manusia menemukan jawaban tentang teka-teki alam semesta, definisi Tuhan akan dengan sempurna kembali pada titik nol. Kosong.

Lantas, setelah kematian Tuhan dalam filosofi, maka nihilis lahir. Hampa, cuma mengambang tanpa arah, tanpa makna, tanpa arti.

Begitulah Rick Sanchez sehari-hari, seorang ilmuwan super jenius, yang bahkan mampu menciptakan alam semesta sendiri (seperti Tuhan), ia pun mengerti hampanya eksistensi manusia di alam semesta.

“I am in great pain! Please help me! (Aku merasakan sakit yang hebat! Tolong aku!), teriak Rick Sanchez sehari-hari di balik frasa, “Wubbalubbadubdub!” yang ikonik.

Pergulatan melawan eksistensi yang nihil adalah latar utama Rick and Morty. Rick tanpa henti menggunakan sains untuk melawan mitos, cinta, agama, tradisi, dan hampir segala macam kultur lainnya di kehidupan manusia. Rick menyebut cinta cuma reaksi kimia, sekolah hanya buang-buang waktu, juga menentang keberadaan Tuhan. Sementara cucunya, Morty, harus berulang kali berhadapan dengan krisis eksistensi dan ambiguitas batas nilai moral – yang mana benar yang mana salah, yang mana baik yang mana buruk, akibat semua ulah jahil kakeknya yang hanya sedang bosan.

.

[Popkey]