Star Wars Episode IV: A New Hope – Religius di Balik Fiksi

3
[Imgur]

Sarat fiksi dan imajinasi, Star Wars Episode IV: A New Hope justru berhasil menyajikan premis terdekat dengan realita umat manusia di planet Bumi.

Mumpung sedang hari spesial bagi para penggila perang bintang, mari bicara tentang Star Wars. Mumpung sedang tanggal ke-4 di bulan Mei 2018, mari bicara installment Star Wars bernomor 4, tapi juga yang nomor pertama kalau menurut pada waktu perilisan.

Bingung? Memang. Begitulah tips dan trik jika ingin menghasilkan film populer. Lihat saja Inception dan Arrival.

Baca juga Sensitif, Insan Kreatif di Planet Kami Takut Berkarya

Seperti sebelum-sebelumnya, [SPOILER ALERT], kita kembali mengingat narasi utuhnya terlebih dahulu.

RINGKAS CERITA

Star Wars IV: A New Hope mengisahkan seorang remaja-banyak-minta bernama Luke Skywalker, yang hari-harinya cuma habis untuk bermain di sekitar rumah saja, karena ia tidak punya teman satu orang pun.

Suatu hari paman dan bibinya merasa iba, mereka pun membelikan Luke dua robot bekas, R2D2 dan C3PO, sebagai teman bermain yang baru. Sayang, tiba-tiba saja tempat tinggal Luke Skywalker diserang oleh sekelompok Stromtropper, lalu menewaskan paman dan bibinya.

Luke, R2D2, dan C3PO lantas pergi mencari Obi-Wan Kenobi, seorang tetangga dengan mulut tanpa henti, dan selalu bicara bagaimana dirinya mengenal ayah Luke Skywalker. Entah benar-benar kenal, atau cuma sok kenal.

Untuk menghilangkan rasa sedih, Obi-Wan kemudian mengajak Luke beserta robot-robotnya pergi ke satu bar kecil untuk minum-minum, lantas bertemu Han Solo. Humanoid yang entah darimana asalnya, bertipe slengean, keren, trendi, masa kini, dan selalu ditemani oleh sesosok bigfoot, Chewbacca.

Sudah puas minum-minum, kegiatan selanjutnya adalah mencari wanita. Oleh sebab itu, pergilah Obi-Wan Kenobi, Han Solo, Chewbacca, Luke Skywalker, R2D2, dan C3PO menuju klub dansa favorit semua penduduk galaksi, Death Star.

Sampai di sana, mereka berjumpa dengan gadis seksi bernama Leia Organa. Mereka ingin mengajak Leia ikut pulang ke rumah mereka, tapi mereka harus berhadapan dengan para bodyguard si wanita yang dikirim oleh ayah si wanita yang begitu posesif.

Star Wars Episode IV
[Star Wars]

Berhubung sudah tua, Obi-Wan cepat merasa lelah, lalu mengorbankan dirinya sambil tertawa gembira, sehingga Luke dan teman-teman barunya bisa pergi kabur tanpa cidera berarti.

Kesal dan ingin balas dendam, Luke dan teman-teman kembali mengunjungi Death Star. Sekarang, mereka berniat membunuh Darth Vader, lalu menghancurkan Death Star atas nama The Force.

Mereka berhasil.

Setelahnya, Luke dan teman-teman dipaksa mengikuti sebuah acara seremoni, dimana Luke dan Han Solo mendapat medali penghargaan, sementara Chewbacca tidak dapat. Begitu pula pilot-pilot lainnya, dan juga orang-orang yang sudah membantu rencana pemberontakkan.

PESAN RELIGIUS di BALIK FIKSI

Star Wars Episode IV begitu kental dipengaruhi oleh model-model standar cerita fiksi di planet Bumi. Salah satunya oleh model diagram Joseph Campbell, menyajikan langkah-langkah klise, seperti panggilan bertualang, bertemu seorang mentor (Obi-Wan Kenobi), dan jatuh cinta pada saudara sendiri.

[SF Center]

Model narasi Joseph Campbell sering dipakai oleh sejumlah film legendaris Bumi pada masa-masa sebelum kemunculan Star Wars. Film The Hidden Fortress di tahun 1958, atau The Searchers di tahun 1956 adalah contoh kecilnya. Semakin menguatkan ajaran Joseph Campbell, Star Wars Episode IV pun turut serta menyelipkan atmosfer religius dan metafisika, The Force.

Menurut Star Wars, The Force adalah suatu macam kekuatan besar, yang tembus pandang, susah dibayangkan, tapi mitosnya dapat dirasakan oleh sejumlah makhluk hidup tertentu di galaksi. Kalau di Bumi, misalnya seperti tukang parkir di depan Indom**t.

Apabila humani Bumi mempercayai kehadiran Tuhan sebagai sumber energi utama kehidupan, penduduk sinematik Star Wars menaruh keyakinannya pada The Force.

Atmosfer religius bukanlah sekadar pelengkap grafis Campbell pada narasi Star Wars, tapi juga berlaku utama di sepanjang plot cerita. Budaya Jedi yang merepresentasikan ajaran taoisme pun menjadi penegasnya.

Taoisme menyebutkan jika ada satu macam kekuatan bernama ‘Tao’ di balik semua eksistensi. Mulai dari alam semesta sampai limbah pabrik, mulai dari planet Merkurius sampai planet Namek, mulai dari pohon akasia sampai pohon tomat, mulai dari kuda darat, kuda laut, sampai kuda terbang bercula satu.

Tepat seperti The Force.

Nilai-nilai religius, berupa kepercayaan dan keyakinan, pun disajikan dengan apik pada sepanjang konflik di antara kelompok pemerintah (The Empire) dan regu pemberontak.

Sebelum menekankan kembali nilai-nilai kepercayaan, Star Wars lebih dulu menyuguhkan kejayaan fasisme. Jenderal-jenderal The Empire tampil menggunakan seragam yang menyerupai para komandan pasukan Bavaria di masa-masa kejayaan fasisme dan komunisme. Warna hitam dan merah yang identik pun juga dipakai oleh sejumlah perwira The Empire. Bahkan sebutan “stromtropper” sendiri berasal dari panggilan sayang Adolf Hitler kepada pasukan pribadinya.

Pada sisi berlawanan, Obi-Wan menyarankan Luke agar lebih menaruh kepercayaan kepada The Force daripada teknologi. Sementara The Empire, seperti mitos para pelaku fasisme di masa lalu, lebih mengandalkan keyakinannya pada teknologi (Death Star), lalu berdiri tegak di belakang humanoid yang lebih menyerupai mesin daripada makhluk hidup (Darth Vader).

Ketergantungan terhadap teknologi lantas harus dibayar mahal oleh pasukan The Empire. Mereka harus berujung pada kehancuran dan anarki, sedangkan gaya hidup alami dan religius mampu mengantarkan Luke pada kemenangan.

Seperti mitos di planet Bumi, mempercayai agama berujung pada kesejahteraan, mempercayai The Force pun memberi Luke Skywalker kejayaan.

[Giphy]

Membicarakan agama, membicarakan pula baik dan buruk. Star Wars juga mempertegas dualisme tersebut pada penggunaan warna sebagai identitas dari setiap karakter. Obi-Wan Kenobi yang baik hati menggunakan lightsaber dengan warna biru, sementara Darth Vader yang keji memilih lightsaber berwarna merah. Dua bersaudara kembar, Luke dan Leia berpakaian serba putih, sebab mereka sama-sama mengikuti jalan yang mereka percaya adalah baik. Para jenderal The Empire berseragam hitam-hitam karena diduga berperilaku buruk.

Lain dari karakter-karakter utama lainnya, Han Solo lebih nyaman memakai pakaian berwarna hitam dan putih, sesuai tindak-tanduknya yang plin-plan, sedikit baik, sedikit jahat, apapun demi dekat dengan Leia Organa. Begitu pula dengan para Stromtropper, yang sebenarnya cuma pasukan manut-manut perintah saja. Bukan baik, bukan juga buruk.