Game of Theories II: Jaime Lannister, The Prince That Was Promised

2
[twitter.com/GameOfThrones]

Saat pertama kali tiba di planet bumi, kami pernah mencoba menggali isi kepala George R.R. Martin, lalu menyebut bila Jon Snow dan Daenerys Targaryen bukanlah akhir dari cerita panjang nan kompleks ‘Game of Thrones’ – silakan kembali ke halaman ini kalau lupa.

Kami memang sempat menyimpulkan kalau Samwell Tarly yang akan jadi penguasa Seven Kingdoms di ujung narasi, tapi semoga saja kalian sadar kalau kesimpulan itu hanyalah lelucon. Candaan akibat denyut-denyut frustasi setelah masuk terlalu dalam mengulik-ulik pola pikir Si GRRM.

Kalau ditanggapi serius? Well.. mungkin saja. Apapun bisa terjadi di dunia fantasi ciptaan GRRM yang lebih semrawut daripada timeline Facebook selama Pilkada 2017 kemarin.

Hanya saja sayang beribu sayang, kami punya kuda pacu yang berbeda.

His name is Jaime Lannister.

Ya. Kami bertaruh sepuluh ribu rupiah untuk Jaime F***ing Lannister.

Kenapa?

RAMALAN PANGERAN YANG DIJANJIKAN DAN AZOR AHAI

Pada sejumlah interview, GRRM pernah menyebutkan kalau konteks ramalan adalah sesuatu yang rumit dan kompleks. Seperti kitab suci agama, terkadang pernyataan dari satu ramalan bisa saja pada mulanya disampaikan dalam bentuk metafora, perumpamaan, tidak literal, butuh peleburan dari sejumlah telaah – sementara tujuannya juga kadang kabur, entah menjadi prediksi atau justru sebagai pedoman.

Nah, untuk mengakomodasi pendapat GRRM, kami coba melihat lagi sejumlah ucapan tentang Azor Ahai dan Pangeran Yang Dijanjikan, dengan asumsi bila kedua karakter pada ramalan tersebut adalah sama.

Menurut Melisandre, Pangeran Yang Dijanjikan akan lahir “…after a long summer, when the stars bleed and the cold breath of darkness falls heavy on the world,” dan kemudian terlahir kembali, “…amidst smoke and salt. […] waking dragons out of stone. He will carry a burning sword, called Lightbringer.”

Ucapan dari Melisandre tentang Pangeran Yang Dijanjikan pun seragam dengan apa yang dikatakan oleh Benerro (Kinvara jika pada serial televisinya), pendeta R’hllor dari Red Temple di Volantis, tentang Azor Ahai. Dia turut menyebutkan bila Azor Ahai lahir di antara asap dan garam (mungkin metafora untuk api dan laut), lalu dikirim untuk menciptakan dunia yang baru, hingga akhirnya menyudahai kegelapan serta membawa musim panas yang baru. Benerro bahkan menegaskan bila, “Death itself will bend its knee, and all those who die fighting in Azor Ahai’s cause shall be reborn.”

Jadi, bagaimana bila nanti, pada season 7, kita melihat Jaime Lannister dikirim oleh Cersei Lannister, agar pergi bernegosiasi dengan Daenerys Targaryen di Dragonstone (“Death itself will bend its knee”), namun pada nantinya ia justru benar-benar pergi meninggalkan pihak Cersei Lannister, lalu bergabung dengan pihak Daenerys Targaryen (menyudahi kegelapan, membawa musim panas yang baru).

[go4moresecret.info] Jaime Skywalker.

Sekarang lupakan metafora sebentar, mari coba lihat Pangeran Yang Dijanjikan dan Azor Ahai agak-agak menyentuh sisi literal. Bagaimana bila darah dinasti Targaryen memang benar-benar penting untuk akhir dari pertikaian panjang ‘Game of Thrones’?

Maka jawaban dan pertanyaan selanjutnya : Bagaimana bila Tyrion Lannister sebenarnya bukanlah putra dari Joanna Lannister dan Aerys Targaryen, tapi justru Cersei dan Jaime?

Kami tidak ingat betul kalau pada serial televisinya, tapi kalau mengacu pada seri-seri bukunya, Joanna Lannister pernah disebut-sebut memiliki hubungan asmara geli-geli basah dengan The Mad King Aerys II Targaryen, sebelum menikah dengan Tywin Lannister. Hubungan yang rumornya… tetap berlanjut untuk beberapa waktu setelah Joanna dan Tywin menjadi suami-istri.

Isu-isu lantas berkembang semakin liar, ada yang menyebutkan bila Joanna kemudian melahirkan seorang anak dari kisah asmaranya dengan Aerys II Targaryen. Bukan murni keturunan dari Tywin Lannister.

Sepanjang seri berjalan, para humani di Westeros cenderung berasumsi bila Tyrion adalah sosok anak haram tersebut – karena penampilan fisiknya. Tapi kalau menyadari karakter si kurcaci yang cerdas, ahli strategi, suka membaca, sedikit bijak, pintar bernegosiasi, cinta mati pada wanitanya (Shae)… entah kenapa rasa-rasanya justru Tyrion lebih mencerminkan seorang Tywin Lannister daripada The Mad King.

THE. MAD. KING.

Maka, coba lihat lagi Cersei dan Jaime Lannister. Mereka berdua punya  “romantisme cinta dan nafsu seksual di antara saudara kandung”, kebiasaan aneh bagi kaum biasa, namun tidak bagi dinasti Targaryen. Lalu yang terpenting adalah karakter ganas, gila, straight-up-insanity dari seorang Cersei Lannister. Si putri satu-satunya dari klan Lannister itu malah seakan-akan melahirkan kembali sosok The Mad King yang berdarah Targaryen. Dia bahkan sempat menjalankan salah satu rencana tertunda The Mad King – menggunakan wildfire untuk membunuh sejumlah penduduk di King’s Landing (yang menjadi alasan Jaime Lannister membunuh Aerys II Targaryen).

Sementara Jaime sendiri? Jangan lupakan awal mula konflik di Game Of Thrones, bagaimana ia mendorong Bran Stark dari puncak menara demi menjaga cinta terlarangnya dengan Cersei agar tetap rahasia.

Kalau sedang bersama-sama, Cersei dan Jaime lebih mewujudkan The Mad King daripada Tywin Lannister.

Anyway, apa hubungannya kondisi Cersei-Jaime Lannister dengan ramalan Melisandre dan Benerro (Kinvara)?

Baik Pangeran Yang Dijanjikan atau Azor Ahai sama-sama disebutkan membawa pedang yang bernama ‘Lightbringer’, dimana dalam penciptaanya, mereka sama-sama mengikuti langkah yang begitu panjang dan memberatkan,

“To fight the darkness, Azor Ahai needed to forge a hero’s sword. He labored for thirty days and thirty nights until it was done. However, when he went to temper it in water, the sword broke. He was not one to give up easily, so he started over. The second time he took fifty days and fifty nights to make the sword, even better than the first. To temper it this time, he captured a lion and drove the sword into its heart, but once more the steel shattered. The third time, with a heavy heart, for he knew before hand what he must do to finish the blade, he worked for a hundred days and nights until it was finished. This time, he called for his wife, Nissa Nissa, and asked her to bare her breast. He drove his sword into her breast, her soul combining with the steel of the sword, creating Lightbringer, while her cry of anguish and ectassy left a crack across the face of the moon.”

Sekarang pertimbangkan bila ramalan dari kedua orang Pendeta Dewa Api tersebut sebagai petunjuk, sebagai pedoman. Bukan sebagai prediksi.

Kalau Cersei dan Jaime memang terlahir dengan sebagian darah dari Targaryen, maka bukan hal yang tabu untuk menganggap mereka berdua adalah suami-istri. Apalagi jika keduanya dibesarkan di rumah keluarga para pengendara Naga. Lalu dengan premis seperti itu, Lightbringer tentu sudah hampir nyata di depan mata. Lebih tepatnya, di depan Jaime Lannister. Figur si pangeran Lannister yang sedang terombang-ambing di antara batas baik dan buruk itu hanya perlu menusukkan pedangnya ke dada sang wanita yang begitu super-duper-ultimate ia cintai.

Dan jangan lupakan juga ramalan lainnya tentang kematian Cersei Lannister, bahwa dirinya akan tewas di tangan seorang valonqar, a.k.a. adik laki-laki dalam bahasa Valyrian – Jaime lebih muda beberapa menit dari Cersei Lannister.

[bustle.com] Duh, kamu ketahuan.

Seperti yang kami sebut di sini, GRRM ingin sekali menggunakan ‘Game of Thrones’ sebagai senjatanya mengaburkan batas kabur di antara baik dan buruk, di antara benar dan salah, di antara pahlawan dan penjahat. Jadi, berpindahnya si penyebab rantai masalah di tanah Westeros menuju sisi penyelamat, tentu bisa memaniskan nafsu GRRM.

Jaime Lannister The King Slayer, terlahir kembali sebagai Jaime Lannister The Prince That Was Promised.

The only question is, maukah Jaime pergi meninggalkan sisi gelapnya yang selalu muncul akibat cinta buta terhadap saudari kembarnya, lantas menyudahi hidup The Mad Queen Cersei Lannister?